Keutamaan Salat Sunah Rawatib

elmihrab.com – Salat sunah rawatib adalah salat sunah yang mengiringi salat fardu. Salat sunah rawatib yang dikerjakan sebelum salat wajib disebut salat qobliyah, sedangkan salat sunah rawatib yang dilakukan setelah salat wajib disebut salat bakdiyah.

Salah satu hikmah sholat sunnah rawatib adalah sebagai penambal atau penyempurna kekurangan yang mungkin selalu terjadi di dalamnya. Salat fardu ini pula yang menjadi amalan pertama yang dihisab dalam Hari Perhitungan. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ، فَإِنْ أَتَمَّهَا، وَإِلَّا قِيلَ: انْظُرُوا هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ أُكْمِلَتِ الْفَرِيضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ، ثُمَّ يُفْعَلُ بِسَائِرِ الْأَعْمَالِ الْمَفْرُوضَةِ مِثْلُ ذَلِكَ

Artinya, “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat adalah salat fardu. Itu pun jika sang hamba menyempurnakannya. Jika tidak, maka disampaikan, “Lihatlah oleh kalian, apakah hamba itu memiliki amalan (salat) sunah?” Jika memiliki amalan shalat sunah, sempurnakan amalan salat fardu dengan amal shalat sunnahnya. Kemudian, perlakukanlah amal-amal fardu lainnya seperti tadi,” (HR. Ibnu Majah).

Jumlah Rokaat Salat Rawatib

Dalam satu hari semalam, jumlah total rakaat salat sunah rawatib ada 22 rakaat, yang terbagi di dalam kelima shalat fardu, Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh.

Syekh Zainuddin Al-Malibary dalam Fathul Muin Syarh Qurrotil ‘Ain bi Muhimmatid-Din (hlm. 158 – 159) menyebutkan, "Disunahkan salat sunah 4 rakaat sebelum salat Asar, 4 rakaat sebelum Zuhur dan setelahnya, 2 rakaat setelah Magrib dan disunahkan menyambung 2 rakaat ba’diyah Magrib dengan salat fardu, dan tidak hilang keutamaan menyambung 2 rakaat bakdiyah magrib sebab melakukan zikir ma’tsur setelah salat fardu."

Shalat sunah rawatib sebelum Zuhur 4 rakaat

Shalat sunah rawatib setelah Zuhur 4 rakaat

Shalat sunah rawatib sebelum salat Asar 4 rakaat

Shalat sunah rawatib sebelum Magrib 2 rakaat

Shalat sunah rawatib setelah Magrib 2 rakaat

Shalat sunah rawatib setelah Isya 2 rakaat

Shalat sunah rawatib sesudah Isya 2 rakaat

Shalat sunah rawatib sebelum Subuh 2 rakaat

Jumlah rakaat shalat sunnah rawatib memang beragam, mengingat banyaknya riwayat tentangnya. Menukil riwayat Al-Bukhari dan Muslim, ulama Syafi‘i membaginya menjadi dua golongan: ada yang muakkad, ada yang ghair muakkad. Yang muakkad berjumlah sepuluh rakaat. Sisanya adalah ghair muakkad. Sepuluh rakaat yang muakkad adalah:

(وَرَوَاتِبُ الْفَرَائِضِ) الْمُؤَكَّدَةِ (عَشْرٌ)، وَالْحِكْمَةُ فِيهَا تَكْمِيلُ مَا نَقَصَ مِنْ الْفَرَائِضِ فَضْلًا مِنْ اللَّه وَنِعْمَةً، وَهِيَ (رَكْعَتَانِ قَبْلَ الصُّبْحِ وَ) رَكْعَتَانِ قَبْلَ (الظُّهْرِ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَ) رَكْعَتَانِ بَعْدَ (الْمَغْرِبِ وَ) رَكْعَتَانِ بَعْدَ (الْعِشَاءِ) لِلِاتِّبَاعِ رَوَاهُ الشَّيْخَانِ

Artinya, “Shalat sunah rawatib pengikut fardu yang ditekankan adalah sepuluh rakaat. Hikmahnya adalah menyempurnakan kekurangan salat fardu sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Sepuluh rakaat tersebut adalah dua rakaat sebelum subuh, dua rakaat sebelum zuhur, dua rakaat setelah zuhur, dua rakaat setelah magrib, dan dua rakaat setelah isya, karena ikut kepada riwayat Al-Bukhari dan Muslim.” (Lihat: Asnal Mathalib fi Syarh Raudlatith-Thalib, jilid 1, hal. 202).

Sedangkan sisanya adalah ghair muakkad, seperti tambahan dua rakaat sebelum dan setelah Zuhur, empat rakaat sebelum Asar, dua rakaat sebelum Magrib, dua rakaat sebelum Isya.

Keutamaan Salat Sunah Rawatib

Di samping sebagai penyempurna shalat fardu, salat sunnah rawatib juga memiliki keutamaan umum untuk mengantarkan seorang hamba kepada rida Allah dan kenikmatan surga, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i dari Ummu Habibah berikut ini, meski terdapat sedikit perbedaan jumlah rakaat:

ثِنْتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً مَنْ صَلَّاهُنَّ، بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ، أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ الْعَصْرِ، وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ

Artinya, “Dua belas rakaat yang ditunaikan seseorang maka sebuah rumah di surga akan dibangunkan untuknya, yakni empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat sebelum Asar, dua rakaat setelah Magrib, dan dua rakaat sebelum Subuh.”

Sementara keutamaan khusus yang dimiliki shalat sunah rawatib adalah empat rakaat sebelum dan setelah Zuhur, berdasarkan riwayat berikut:

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Artinya: “Siapa saja yang menjaga empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya, maka Allah mengharamkannya atas siksa neraka,” (HR. At-Tirmidzi).

Masih dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan, empat rakaat sebelum shalat ashar mengundang rahmat Allah subhanahu wata’ala.

رَحِمَ اللهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

Artinya, “Allah merahmati seseorang yang shalat sunnah empat rakaat sebelum ashar.”

Bahkan, ada salat sunah rawatib yang menandingi kebaikan dunia dan isinya. Dialah shalat sunah fajar atau dua rakaat shalat sunah Subuh. Demikian yang disebutkan dalam riwayat Muslim dan At-Tirmidzi.

رَكعَتَا الْفجْر خير من الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Artinya, “Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan pengisinya.”

Sementara salat sunah rawatib ghair muakkad dua rakaat sebelum salat Magrib dan sebelum salat Isya, dalilnya adalah:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ )ثَلاَثًا( لِمَنْ شَاءَ

Artinya, “Di antara dua azan itu ada salat sunnah (3 kali) bagi dia yang menghendaki,” (HR. Al-Bukhari).

Kemudian, salat sunnah rawatib Jumat diqiyaskan kepada shalat Zuhur, baik dalam muakkad maupun ghair muakkad-nya, yakni dua rakaat muakkad sebelum dan setelahnya, dan dua rakaat ghair muakkad sebelum dan setelahnya, sebagaimana dalam riwayat Muslim:

إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا

Artuinya, “Jika salah seorang kalian shalat Jumat, maka shalatlah setelahnya empat rakaat.”

Walhasil, shalat sunnah rawatib memiliki keutamaan yang besar, baik yang muakkad maupun yang ghair muakkad. Antara lain menjadi penambal kekurangan shalat fardu, pengundang rida dan rahmat Allah, penanding kebaikan dunia, dan pengantar nikmat akhirat.

Siapa pun yang ingin meraih sejumlah keutamaan itu, maka tunaikanlah tanpa melihat muakkad dan ghair muakkad-nya. Sebab, yang ghair mukkad pun memiliki keutamaan besar dan sayang sekali bila dilewatkan.

Dalam keadaan sempit, sekurang-kurangnya adalah yang muakkad. Jangan pernah melewatkannya, karena orang yang biasa melewatkannya, menurut Imam Ar-Rafii, layak ditolak kesaksiannya.

Sumber: Nu Online

Komentar