Apakah Boleh Menikah Beda Agama?

elmihrab.com – Salah satu problem klasik dalam hal percintaan di Indonesia, adalah adanya hubungan pacaran atau bahkan menikah beda agama. Adanya interaksi di tengah masyarakat plural, yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras, dan antargolongan, memungkinkan tumbuhnya perasaan tertarik terhadap lawan jenis yang tidak bisa semena-mena kita filter dengan pasti sejak awal.

Saat mulai jatuh cinta, barangkali seakan bunga-bunga yang tumbuh bersemi sangat indah. Akan tetapi, bila sudah berniat melangkah pada jenjang yang lebih serius, kebimbangan untuk mengambil keputusan mulai menerjang. Seperti pernyataan yang disampaikan oleh seorang penulis, Fiersa Besari, melalui media sosial Twitter miliknya,

“Pacaran beda agama itu berat. Karena ujungnya kamu harus memilih antara mengkhianati kekasihmu, mengkhianati Tuhan-mu, atau lebih parah lagi, meminta kekasihmu mengkhianati Tuhan-nya. Berat Bos.” (25/02/2021)

Lantas bagaimana sebenarnya pandangan agama Islam dalam menyoroti fenomena tersebut? Mari kita baca lebih lanjut tanya jawab berikut ini.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Nur yang terhormat, saya ingin bertanya singkat. Anak gadis saya (muslimah) sudah berjalan satu tahun ini pacaran dengan laki-laki non muslim. Saya sebagai orang tua tidak berani melarangnya. Di samping karena si cowok pacar anak saya itu orangnya sangat baik, sopan, hormat dan kayaknya juga taat beragama. Dia juga seorang sarjana dan sudah bekerja di suatu BUMN. Anak saya sangat mencintainya dan sudah bulat tekadnya untuk menikah, apalagi sudah berusia 25 tahun, usia yang cukup untuk menikah.

Rencananya dalam waktu dekat orang tuanya akan datang melamar. Saya sebagai orang tua tidak tega menolak keinginannya. Oleh karena itu saya mohon saran dan penjelasan, menurut hukum apakah keduanya sah menikah? Matur nuwun sebelumnya.

Wassalamu'alaikum Wr. wb.

 

Ibu Siti R.

 

Jawaban:

Pertanyaan ibu tentang hukum kawin beda agama, sebenarnya telah banyak dibahas dalam berbagai kesempatan seperti dalam forum seminar, diskusi, pengajian, maupun dikaji dalam buku-buku perkawinan, yang intinya melarang perkawinan beda agama. Tetapi kasus-kasus yang seperti ibu alami ini memang masih banyak terjadi di masyarakat. Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya sosialisasi mengenai hukum perkawinan.

Sekedar untuk mengingatkan kembali tentang ketentuan hukum tentang kawin beda agama, maka akan saya berikan penjelasan menurut hukum Islam dan hukum Perkawinan Indonesia sebagai berikut:

Dalam Hukum Islam :

Dalam ajaran Islam perkawinan merupakan penyatuan dua jiwa lain jenis menjadi satu kesatuan yang utuh dalam menuju kesempurnaan hidup. Dalam al Qur'an: Mereka (istri-istri) ibarat pakaianmu, dan kamu para suami adalah ibarat pakaian bagi mereka. (QS : Al Baqarah: 187).

Ikatan suami istri tidak akan utuh, jika tidak mempunyai visi atau cara pandang yang sama. Oleh karena itu diisyaratkan harus adanya mukaafa’ah (kesepadanan) dalam segala hal antara kedua calon suami istri. Lebih-lebih harus se-agama, sama-sama beriman kepada Allah (mukmin), menyembah dengan cara yang sama, dan mempunyai parameter (ukuran) yang sama dalam memandang kehidupan.

 

Pasangan yang demikianlah yang akan mendatangkan ketenangan jiwa dan menjadi pelengkap hidup.

Pasangan yang beda agama tidak bisa atau sulit kemungkinannya untuk mewujudkan tujuan perkawinan, yaitu terwujudnya keluarga yang harmonis. Karena akan menemui berbagai benturan prinsip dan perbedaan-perbedaan pandangan.

Pendidikan anak-anak sebagai tanggung jawab perkawinan juga akan mengalami kesulitan dan kebingungan. Anak-anak akan beragama seperti bapaknya atau ibunya. Misalnya akan mengikuti agama ibunya yang berarti menentang bapaknya, atau sebaliknya mengikuti agama bapaknya dan pasti dia tidak akan disayang ibunya.

Belum lagi perbedaan cara pandang untuk menentukan yang baik dan yang buruk. Misalnya, si suami memandang daging babi halal dikonsumsi dan minta si istri untuk memasaknya. Sedang menurut si istri, babi adalah haram dimakan. Dan masih banyak lagi benturan-benturan nilai yang akan menjadi bencana dalam keluarga beda agama.

Oleh karena itu Islam melarang dengan tegas perkawinan beda agama. Perkawinan yang dilaksanakan oleh pasangan yang beda agama, orang Islam dengan pemeluk agama lain, adalah tidak sah. Demikian juga jika pasangan suami istri yang mukmin menikah secara Islam, lalu dalam perjalanan rumah tangganya salah satu keluar dari Islam (murtad), maka perkawinannya batal.

Larangan kawin beda keyakinan ini didasarkan atas Firman Allah Swt dalam QS. Al Baqarah: 221 : "Dan janganlah kamu mengawini wanita-wanita musyrikah, sehingga mereka beriman. Sesungguhnya hamba wanita yang mukminah lebih baik dari pada wanita musyrikah, meskipun ia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan (wanita mukminah dengan) laki-laki musyrik sehingga mereka beriman. Sesungguhnya hamba laki-laki yang mukmin lebih baik dari pada orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan keampunan dengan ijin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran".

Ayat ini menegaskan pentingnya memperhatikan agama dalam memilih pasangan hidup dalam perkawinan. Agama harus menjadi pertimbangan utama sebelum kriteria-kriteria yang lain, seperti kecantikan, kekayaan, nasab, dan pengetahuan. Nabi saw bersabda :

"Janganlah kamu mengawini perempuan-perempuan karena kecantikannya, karena barangkali kecantikannya justru membinasakan kamu, janganlah kamu mengawini perempuan-perempuan karena hartanya, karena barangkali hartanya justru membuat kamu menyimpang. Tetapi kawinilah mereka karena agamanya, sungguh seorang hamba yang hitam lagi bodoh yang beragama adalah lebih mulia (dari pada yang cantik lagi pandai tapi tak beragama)".

Dalam Hukum Perkawinan Indonesia :

Hukum yang mengatur perkawinan di Indonesia adalah Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UUP-1974), PP. Nomor 9 Tahun 1975 tentang pelaksanaannya, dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Ketiga sumber hukum perkawinan ini tidak dikenal istilah kawin beda agama, yang ada adalah perkawinan campuran.

Perkawinan campuran yang dimaksudkan oleh UUP-1974 adalah bukan campuran dalam arti beda agama, tetapi campuran dalam arti beda kewarganegaraan. Dalam, hal ini salah satunya harus melebur kewarganegaraan kepada yang lain (Pasal 57-62). Jadi yang berlaku adalah hukum perkawinan salah satunya. Misalnya wanita Indonesia ingin melangsungkan perkawinan dengan pria Belanda, maka pria Belanda itu harus melebur menjadi warga negara Indonesia, dan yang diberlakukan adalah hukum perkawinan Indonesia. Atau sebaliknya, wanita Indonesia harus rela kehilangan kewarganegaraan Indonesia karena melebur menjadi warga negara Belanda, sehingga hukum yang berlaku adalah perkawinan Belanda.

Sedangkan perkawinan beda agama menurut UUP-1974 tidak dibenarkan. Karena perkawinan dianggap sah jika dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 2). Padahal semua agama, termasuk Islam, tidak membenarkan perkawinan beda agama. Untuk bisa dicatat secara sah, maka agama kedua mempelai harus sama. Adapun pencatatannya dilakukan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) bagi pasangan yang menikah menurut agama Islam, dan dicatat oleh Kantor Catatan Sipil (KCS) bagi pasangan selain Islam.

Dari ketentuan ini bisa dimengerti, jika perkawinan antara anak gadis ibu yang muslimah dengan laki-laki non muslim tetap dilaksanakan, maka perkawinan tersebut tidak sah menurut hukum, dan tidak bisa dicatat baik di KUA maupun di KCS. Untuk bisa dilangsungkan perkawinan secara sah, caranya harus murtad salah satu dan masuk agama yang lainnya. Anak ibu yang harus keluar dari Islam dan masuk agama calon suaminya, atau sebaliknya, calon menantu ibu yang harus memeluk Islam. Tetapi cara seperti ini biasanya tidak tulus kegamaannya, justru agama dipermainkan hanya sekedar mengelabui hukum agar perkawinannnya sah.

Saran saya :

Ibu sebagai orang tua harus tegas memberikan garis kepada anak-anak, mana yang boleh dan mana yang tidak. Apalagi  soal agama atau keyakinan adalah, masalah prinsipil. Kecuali jika ibu memandang agama bukan hal yang prinsip. Mestinya sejak awal ibu harus tahu, anak gadisnya bergaul dengan pemuda yang bagaimana. Seharusnya sudah diantisipasi sebelumnya, sehingga tidak menimbulkan problem yang rumit di belakang hari.

Nah, sekarang ini mumpung belum terlambat, saya sarankan, perkawinan tersebut harus dicegah dengan cara-cara yang patut, cara-cara yang tidak menyakiti salah satu pihak. Meskipun ini sulit. Ini adalah bagian ketaatan ibu beragama dan sebagai jihad menegakkan agama. Di samping ini, dalam kenyataan sebagian besar pasangan beda agama, dalam perjalanan rumah tangganya tidak akan menemui kebahagiaan. Sebaliknya, akan timbul perpecahan dan bencana. Jadi anak ibu harus didudukkan dan diberi penjelasan yang baik. Demikian juga kepada si laki-lakinya harus diberikan pengertian yang bijaksana. Kalau tidak bisa menjelaskan sendiri, ibu bisa mengundang pihak ketiga untuk melakukan hal tersebut.

Demikian penjelasan yang bisa saya sampaikan, semoga dapat dipahami dengan jelas dan dapat dijadikan panduan dalam menyelesaikan masalah yang sedang anda hadapi.

*Drs. Nur Khoirin YD, M.Ag (Advokat dan Konsultan Hukum Islam)

 

Artikel telah dipublikasi di majalah Al Mihrab Edisi 18 Tahun 2005 dalam rubrik Konsultasi Hukum Perdata Islam.

Komentar