Puasa di Akhir Bulan Sya'ban, Bolehkah?

elmihrab.com – Telah diriwayatkan secara shahih dalam Shahih al-Bukhari  dan Shahih Muslim, dari Imran bin Hushain bahwa Rasulullah SAW bersabda:
ْأنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللّٰه عليهِ وسلم قَالَ لِرَجُلٍ هَلْ صُمْتُ مِن ْسُرَرِ هَذَا الشَّهْرِ شَيْعًا؟ قال: لاَ، قال: فَإِذَا أَفْطَرْتَ فَصُم يَوْمَيْن
"Bahwa Nabi saw. bersabda kepada seorang laki-laki, 'Apakah engkau berpuasa sebagian dari akhir bulan ini?' Dia menjawab, 'Tidak.' Rasulullah bersabda, 'Apabila engkau tidak berpuasa, maka berpuasalah dua hari'."

Dalam riwayat lain al-Bukhari disebutkan bahwa:

اظنّه يعني رمضان

"Aku (Abu an-Nu'man, guru al-Bukhari) menyangkanya (bahwa) yang dia maksudkan adalah Bulan Ramadhan."

Dan dalam riwayat lain milik Muslim, serta diriwayatkan secara mu'allaq oleh al-Bukhari:

هل صمت من سرر شهبان شيعا؟
"Apakah engkau berpuasa sebagian dari akhir Sya'ban?"

Dan dalam riwayat lain disebutkan bahawa:
فإذا أفطرت من رمضان فصم يومين مكانه
"Apabila engkau telah berbuka dari (sebelum) Ramadhan, maka berpuasalah dua hari sebagai gantinya."

Dan dalam riwayat lain, disebutkan:
يَومًا أو يَومَينِ
"Sehari atau dua hari." Syu'bah ragu.

Terdapat perbedaan pendapat tentang tafsir kata (سرار) dalam hadits di atas, dan yang masyhur bahwa maknanya adalah akhir bulan; dan ini dianggap bermasalah oleh banyak ulama, karena diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim juga, dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda:
"Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan [berpuasa] satu hari [dan jangan pula] dua hari (sebelumnya), kecuali [seseorang] yang biasa berpuasa, maka hendaklah dia berpuasa pada hari tersebut."

Banyak dari kalangan para ulama, seperti Abu Ubaid dan orang-orang yang mengikutinya, seperti al-Khaththabi, serta mayoritas para pensyarah hadits berkata, "Sesungguhnya orang yang ditanya oleh Nabi a ini, telah beliau ketahui bahwa dia mempunyai kebiasaan berpuasa pada hari itu, atau dia telah bernadzar akan berpuasa pada hari itu. Oleh karena itu, Nabi SAW memerintahkannya untuk menunaikan puasanya."

Kalangan ulama lain berkata, "Hadits Imran ini menunjukkan bolehnya berpuasa pada hari yang diragukan dan pada akhir Sya'ban secara mutlak, sama saja, baik itu bertepatan dengan kebiasaan seseorang maupun tidak bertepatan. Yang dilarang adalah apabila seseorang berpuasa pada hari itu dengan niat berpuasa Ramadhan karena kehati-hatian." Dan ini adalah pendapat Malik.

Sedangkan mayoritas para ulama berpendapat bahwa itu merupakan larangan mendahului Ramadhan, kecuali bagi orang yang memiliki kebiasaan berpuasa sunnah pada hari itu, dan ini merupakan makna zahir dari hadits di atas. Dan mayoritas para ulama tidak menyebutkan adanya perselisihan dalam penafsiran hadits tersebut dengan makna demikian, dan inilah yang dipilih oleh asy-Syafi'i dalam tafsirnya, dan beliau tidak menguatkan kemungkinan yang telah disebutkan di atas. Atas dasar ini, maka hadits Abu Hurairah RA. lebih dikuatkan daripada hadits Imran karena sesungguhnya hadits Abu Hurairah yang mengandung larangan umum bagi umat secara umum, maka itu merupakan pensyariatan yang umum bagi umat, sehingga harus diamalkan.

Sedangkan hadits Imran y, maka itu merupakan suatu permasalahan tertentu yang berkaitan dengan seseorang tertentu, sehingga maknanya harus dibawa kepada bentuk puasa yang tidak dilarang untuk didahulukan, sebagai bentuk mengkompromikan antara kedua hadits tersebut.

Dan makna yang paling bagus yang mana hadits ini dibawakan kepadanya adalah bahwa orang yang ditanya oleh Nabi ini telah diketahui oleh Nabi SAW bahwa orang tersebut biasa berpuasa di Bulan Sya'ban atau di mayoritas hari di bulan tersebut agar sesuai dengan puasanya Nabi SAW dan dia tidak berpuasa di sebagian hari lainnya di bulan tersebut, maka Nabi a bertanya kepadanya tentang puasa pada akhir Bulan Sya'ban, lalu ketika dia memberitahu beliau bahwa dia tidak berpuasa pada akhir bulan tersebut, maka Nabi a memerintahkannya berpuasa untuk menggantikan puasa tersebut setelah hari raya Idul Fitri; karena status puasa pada awal Syawal itu seperti puasa pada akhir Sya'ban, dan keduanya berstatus sebagai penyerta Ramadhan. Dan di dalamnya terdapat dalil dianjurkannya mengqadha` puasa sunnah yang terlewatkan, dan agar hal itu dilaksanakan pada hari-hari yang serupa dalam hal keutamaannya dengan hari-hari yang terlewatkan untuk berpuasa padanya.

Kesimpulannya, hadits Abu Hurairah-lah yang diamalkan dalam masalah ini menurut banyak kalangan dari para ulama, dan bahwa dimakruhkan mendahului Ramadhan dengan puasa sunnah sehari atau dua hari sebelumnya bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan melaksanakan hal itu, dan orang tersebut tidak berpuasa sebelum itu di Bulan Sya'ban di mana puasanya bersambung dengan akhirnya.

Dinukil dari Mukhtasar Lathaiful Ma'arif karya Ahmad bin Utsman Al Mazyad.

Komentar