Tanpa Siwak, Mulut Harum Semerbak

elmiihrab.com – Salah satu amalan yang disukai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bersiwak (menggosok gigi) setiap waktu. Siwak atau miswak biasanya menggunakan dahan atau akar dari pohon salvadora persica untuk membersihkan gigi, gusi dan mulut. Di dalam bahasa Arab, kata siwak bermakna menggosok atau alat yang digunakan untuk itu. Nabi saw. sangat menganjurkan umatnya untuk bersiwak setiap salat.

 

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي، لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

 

Artinya, “Jika tidak memberatkan bagi umatku, maka aku akan menyuruh mereka untuk bersiwak setiap salat,” (H.R. Abu Dawud).

 

Pada masa Nabi, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab fikih klasik, disebutkan bahwa orang Arab biasa menggosok gigi dengan kayu yang dikenal dengan kayu arak. Selain itu, dalam berbagai riwayat hadits, Nabi dan sahabat tidak lupa untuk mencuci kayu tersebut setelah digunakan bersiwak. Kenapa kayu arak? Ranting kayu ini lebih lunak dan terasa nyaman di mulut.

 

Bersiwak juga disunahkan dilakukan berulang kali untuk salat yang mempunyai takbiratul ihram berulang-ulang seperti salat tarawih, dhuha, salat qabliyah ba’diyah empat rakaat yang dilakukan dengan dua kali salam, dan lain sebagainya.

 

Bahkan Nabi saw. bersabda dalam haditsnya, bahwa "salat 2 rakaat menggunakan siwak lebih baik dari 70 rakaat tanpa siwak".

 

Saat ini bersiwak diganti dengan sikat gigi, namun tak sedikit yang tetap memakai siwak untuk mengikuti sunah Nabi. Pada bulan Ramadan, muncul pertanyaan, bagaimana hukum bersiwak (menggosok gigi) ketika puasa? Apakah hal ini dibolehkan oleh syariat?

 

Habib Hamid Sholeh Baagil menjelaskan, bahwa hukum menggunakan siwak sebagaimana dijelaskan di dalam Kitab Zubad karya Ibnu Ruslan, disebutkan bahwa:

 

يسن لا بعد زوال الصائم

 

Hukum menggunakan siwak adalah sunah, namun ketika masuk waktu zuhur kesunahannya hilang. Bahkan sebagian ulama mengatakan makruh. Mengapa dikatakan makruh? Hal ini sebagaimana sabda Nabi saw.:

 

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

 

“Bau mulut orang yang puasa menurut Allah lebih harum daripada bau misik (minyak wangi),” (H.R. Bukhari).

 

Hadits ini tidak bisa dipahami secara tekstual dan lahiriah karena bisa salah paham. Kalau dipahami secara lahir, bisa berimplikasi pada penyerupaan Allah dengan makhluk.

 

Kalau kita pahami Allah bisa mencium bau yang harum, berati Allah punya hidung dan tidak jauh beda dengan fisik manusia. Padahal itu sangatlah mustahil bagi Allah. Sebab dalam Al-Qur’an disebutkan:

 

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

 

Artinya, “Tidak ada sesuatu yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar dan Melihat,” (As-Syura ayat 11).

 

Jadi, kalimat “Bau mulut orang yang puasa lebih harum di hadapan Allah ketimbang bau misik,” dipahami dengan makna Allah meridai dan dekat dengan orang yang puasa.

 

Habib Hamid menjelaskan bahwa sebagian ulama mengatakan menggunakan siwak pada siang hari saat puasa menjadi makruh berdasarkan hadits di atas. Penjelasannya adalah, bau mulut orang yang berpuasa di hadapan Allah lebih harum ketimbang bau misik. Maka, ketika menggunakan siwak sedangkan salah satu fungsi siwak ini adalah mengilangkan bau mulut. Akhirnya bau mulut yang di hadapan Allah lebih harum dari misik ini hilang karena bersiwak. Itulah mengapa para ulama mengatakan, memakai siwak pada siang hari saat berpuasa hukumnya makruh.

 

Bersiwak atau sikat gigi dan berkumur setelah waktu duhur dianggap makruh untuk dilakukan saat berpuasa karena pembersihan mulut ketika seorang melakukan ibadah puasa menyalahi hal yang utama.

 

Adapun hal yang utama itu adalah mendiamkan mulut dan aromanya yang kurang sedap dengan apa adanya, mengingat ada hadis Nabi saw. yang menyebut bau mulut orang berpuasa disukai oleh Allah Swt. pada hari kiamat.

 

Dengan demikian, memakai siwak setelah waktu duhur hingga magrib, sebenarnya tidak dilarang bagi orang yang berpuasa, namun aktivitas ini lebih dianjurkan untuk ditinggalkan.

 

Redaksi

Komentar