Dari Zaman ke Zaman Kita Butuh Tuntunan

elmihrab.com - Dahulu kalau pulang haji, orang pegang tasbih sampai akhir hidupnya, sedangkan sekarang, baru turun dari pesawat langsung pegang HP, kontak sana kontak sini. Dahulu merokok di majelis pengajian adalah hal yang tabu, sedangkan sekarang jika ada yang merokok, tak ada yang mampu menegurnya karena pengajiannya sendiri disponsori pabrik rokok. Dahulu menerima bantuan pemerintah untuk pembangunan pondok pesantren adalah subhat dan harus dihindari.  Saat dipaksapun, para “kyai sepuh” tak akan mau, sedangkan sekarang, proposal bantuan menumpuk di meja eksekutif. Semuanya bernyayi “Yaa Dana Dana”. Dahulu setan adalah ‘musuh utama’ dan harus menjauhkan diri darinya, tetapi sekarang tak perlu bersikap demikian karena setan bisa diajak kompromi buat cari duit. Dahulu orang hidup menjauhi wilayah kuburan karena takut keangkerannya, tetapi sekarang yang telah dikubur pun takut digusur karena terdesak bangunan rumah yang hidup. Dahulu orang senang mendengar sesepuh mendendangkan “tuntunan” lewat kidung syahdu atau qosidah nan indah, tetapi sekarang orang lebih senang pada “tontonan” yang menyampaikan gosip, memamerkan paha dan dada, serta setan gentayangan yang kepingin di-shoot kamera. Tidak sedikit kemudian “tontonan” itu dijadikan “tuntunan”.  

Masyaallah, zaman memang telah mengalami banyak perubahan, melaju dengan cepat, menerjang garang dan tak ada yang mampu menghadangnya. Banyak dari kita yang ikut larut, hanyut, dan terbuai. Apakah ini yang dikatakan “Kiamat akan datang manakala matahari terbit dari barat dan tenggelam di timur?” Artinya banyak hal telah berbalik arah dan keluar dari pakemnya. Tidak ada yang tahu pasti jawabnya, tetapi yang jelas, kita bisa meminjam nukilan lagu Gus Ebiet, Roda zaman menggilas kita, terseret tertatih-tatih, seumur hidup terus diburu, berpacu dengan waktu.

Banyak hal yang dahulu tabu sekarang sudah tidak lagi. Setanpun yang dahulu ditakuti kini telah menjadi komoditas industri yang menjanjikan banyak keuntungan. Kegalauan tampak menyelimuti pikiran dan hati manusia zaman ini. Kita telah menyaksikan banyak hal yang jungkir balik, berpindah arah dan tempat. Manusia tak kuasa lagi untuk menahannya. Barangkali pula ini yang disebut yauma yakụnun nāsu kal-farāsyil mabṡụṡ ‘manusia dalam kebingungan bak anai-anai yang beterbangan ke sana ke mari.’

Kriminalitas yang disuguhkan berbagai stasiun TV kini lebih bernuansa ‘dar der dor’ dan ceceran darah. Sinetron yang menjual ilusi dan mimpi, film panas yang bernuansa bupati ‘buka paha tinggi-tinggi’ dan sekwilda ‘sekitar wilayah dada’, last but not least, dan lomba jualan alam gaib oleh berbagai stasiun TV dan channel Youtube menjadi sajian  yang amat digemari. Semua itu  seolah sebagai pelarian untuk menepis kegalauan, kebingungan, dan kebimbangan. Sementara itu, belum pernah ada kesimpulan yang tegas apakah dalam berbagai sajian sedemikian itu mampu “membimbing” agar pemirsanya terselematkan dari hal yang tidak baik, atau bahkan “membombong” pemirsanya untuk meniru?  

Jika ternyata fungsi TV dan Youtube “membombong” pemirsa untuk meniru  sajian-sajian tersebut, lebih besar ketimbang fungsi “membimbing”, terjadinya  bencana besar ‘kiamat’ sudah di ambang pintu, hanya tinggal menunggu waktu. Bisa kiamat sughra atau bisa juga kiamat kubro. Bisa berbentuk kelumpuhan akal hingga tak mampu lagi berkreasi dan berkarya ilmiah. Bisa juga berbentuk kelumpuhan jiwa hingga tak punya rasa takut pada Gusti Allah Yang Maha Kuasa dan tak lagi punya rasa terhadap sesama, bahkan bisa berupa kematian di dalam kehidupan. Haqqul yakin, tak satupun dari kita menginginkan semua itu terjadi. Tidak sekarang, tidak pula yang akan datang, dan tidak selamanya.

Hal yang kita citakan bersama adalah negeri tercinta ini dan segenap komponennya berada dalam Isyatun Rodiah, kehidupan yang tenteram, harmonis, sejahtera, dan jauh dari segala bahaya dan bencana. Maka dari itu, seharusnya semua pihak menjadikan tsaqulat mawazinuhu, menjadikan timbangannya sarat dengan kebaikan. Hidup kita dipenuhi ibadah dan amal saleh dan membangun kehidupan bukan hanya dengan wawasan ‘kekinian’, melainkan sekaligus diiringi wawasan ‘keakanan’, karena bumi tercinta ini akan kita wariskan buat anak cucu kita. Pasti kita ingin kehidupan mereka jauh lebih baik dalam segala hal daripada kita sekarang ini.

 

Habib Umar Muthohar

Komentar