Menyikapi Tahun Baru Hijriyah

الحَمْدُ لله الذِي أرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ, لِيُظْهِرَهُ عَلىَ الدِّيْنِ كُلِّهِ,

 وَأعْطَاهُ مِنَ الأيَاتِ, مَايُؤْمِنُ عَلىَ مِثـْلِهِ البَشَرُ شَهَادَةً لَهُ بِصِدِّقِهِ. الحَمْدُ لله مُجَدِّدِ الأعْوَامِ عَامًا بَعْدَ عَامٍ, الذِي افـْتـَتـَحَ بِأفْضَلِ الأشْهُرِ شَهْرِ المُحَرَّمِ هَذالعَامِ. أشْهَدُ أن لااله الا الله وَحْدَهُ لاشَرِيْكَ لَهُ, في مُلـْكِهِ وَحُكْمِهِ, وَأشْهَدُ أنّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, الذِي بَلَّغَ مَا أنْزِلَ إلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ عَلىَ أكْمَلِ وَجْهِ وَأتْمِهِ,

 وَصَلىّ الله عَلَيْهِ وَعَلىَ ألِهِ وَأصْحَابِهِ وَمَنْ تـَبِعَهُمْ

 بِإحْسَانِ إلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ, وَسَلِّمْ تـَسْلِيْمًا.

 

أمّا بعد:  فـَيَا أيّهَا النّاس, إتـّقـُوْا الله حَقَّ تـُقاتِهِ وَلاتـَمُوْتُنَّ الا وَأنـْتـُمْ مُسْلِمُوْنَ.

            Amma ba’du:

Ma’asyiral hadirin jama’ah jum’ah rohimakumullah,

Bertaqwalah kalian semua pada Allah ta’ala, dengan sebenar-benarnya taqwa, yaitu menjalankan segala perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-larangan-Nya, karena dengan itulah kalian semua akan selamat di dunia dan di akhirat.

Ma’asyiral hadirin jama’ah jum’ah rohimakumullah,

Alhamdulillah, pada saat ini kita berada di dalam bulan yang mulia  Muharram atau yang lazim disebut bulan Syuro, bulan pertama dalam hitungan tahun Islam. Yaitu bulan dimana telah terjadi peristiwa besar dalam peradaban umat Islam, yaitu peristiwa hijrahnya Nabi  Muhammad SAW dari Makkkah menuju Madinah. Dengan kita memasuki tahun baru Hijriah ini, berarti Allah ta’ala telah memberikan kesempatan lagi bagi kita, untuk menikmati atau menjalani kehidupan di dunia ini, kesempatan hidup yaitu umur yang panjang. Dan ini merupakan pemberian Allah ta’ala yang amat besar, oleh sebab itu wajib bagi kita mensyukurinya, dengan menggunakan dan memanfaatkan umur untuk bertaqwa dan beribadah pada Allah ta’ala.

                 إنّ عِدَّةَ الشّهُوْرِ عِنْدَ الله اثـْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ الله يَوْمَ خَلقَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أرْبَعَةُ حُرُمٌ.

Artinya: Sesungguhnya hitungan bulan disisi Allah ada 12 dalam ketetapan Allah ta’ala di waktu menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat yang mulia” (At Taubah 36)

Diantara empat bulan yang mulia yang di jelaskan dalam ayat diatas adalah bulan Dzul Qoi’dah, Dzul Hijah, Muharam dan Rajab.

Ma’asyiral hadirin jama’ah jum’ah rohimakumullah,

Bulan Muharram adalah satu di antara bulan-bulan yang mulia (al-asyhur al-hurum) Yang banyak ulama’ berpendapat merupakan bulan yang utama setelah bulan Ramadhan. Oleh karenanya, kita disunnahkan berpuasa terutama pada hari ‘Asyura, yakni menurut pendapat mayoritas ulama, tanggal 10 Muharram. Di antara fadhilah bulan Muharram, adalah ia dipilih oleh Allah ta’ala sebagai momen pengampunan atau maghfirah dari dosa dan kesalahan.    Keistimewaan bulan Muharram ini lebih lanjut karena dipilih sebagai awal tahun dalam kalender Islam. Pertanyaanya ; Mengapa para sahabat memilih bulan Muharram sebagai awal penanggalan Islam?  Bukan bulan Ramadhan, rajab, robiul awal dsb. Dikarenakan bulan Muharrom adalah masa hijrah Nabi SAW bersama kekuarga, sahabat dan pengikutnya dari kota Makkah menuju Madinah  yang mana  Hijrah itu bisa diartikan memisahkan antara yang hak (kebenaran) dan yang batil (keburukan), oleh karena itu  hijrah menjadi awal untuk menandai kalender awal tahun Hijriah”. 

Dalam shahih Bukhari diterangkan :

Dari Sahl bin Sa’d ia berkata: mereka (para sahabat) tidak menghitung (menjadikan penanggalan) mulai dari masa terutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula dari waktu wafatnya beliau, mereka menghitungnya mulai dari masa sampainya Nabi di Madinah”.   

Ma’asyiral hadirin jama’ah jum’ah rohimakumullah,

Ada banyak hikmah dipilihnya peristiwa hijrah sebagai penanda Kalender Islam atau Tahun Baru Hijriah. Di antaranya adalah dengan peristiwa hijrah itu, umat Islam mengalami pergeseran dan peralihan status: dari umat yang lemah menjadu umat yang kuat; dari perpecahan menjadi kesatuan; dari siksaan yang dihadapi mereka dalam mempertahankan agama menjadi  dakwah yang penuh dengan hikmah; dari ketakutan disertai dengan kegelisahan menjadi kekuatan dan pertolongan dengàn penuh kasih sayang. Di samping itu, dengan adanya hijrah itu terjadi peristiwa sungguh penting antara lain, perang Badar, Uhud, Khandaq dan Perjanjian Hudaibiyah (Shulh al-Hudaibiyah), dan setelah 8 (delapan) tahun hijrah di Madinah terjadilah kemenangan yang dikenal dengan Fath Makkah. Itulah peristiwa-peristiwa yang penting kita ingat. Oleh karena itulah, Al-Quran menjadikan hijrah itu sebagai sebuah pertolongan.

Ma’asyiral hadirin jama’ah jum’ah rohimakumullah,

Hijrahnya Nabi SAW dari Makkah ke Madinah yang terjadi pada tahun 622 M terdapat banyak pelajaran berharga bagi kita, yang terpenting di antaranya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika keluar dari Makkah berhijrah menuju Madinah itu tidaklah dalam keadaan membenci penduduk Makkah, justru beliau cinta kepada penduduk Makkah. Oleh karena itu ketika beliau keluar meninggalkan Makkah beliau berkata:   

 ”Demi Allah, sungguh kamu (Makkah) adalah sebaik-baik bumi Allah, dan bumi Allah yang paling dicintai Allah, seandainya aku tidak dikeluarkan darimu (Makkah) maka tiadalah aku keluar --darimu.” (HR. al-Tirmidzi, al-Nasa’i,

Ini menunjukkan betapa kecintaan beliau kepada Makkah dan penduduk Makkah, sebagaimana maqalah populer menyatakan hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah ekspresi kesempurnaan iman.   Dan satu hal yang penting dalam hijrah adalah bahwa hijrah itu adalah bermakna luas, sebagaimana disebutkan dalam hadits :

 ”Orang yang berhijrah itu adalah orang yang berhijrah, meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah” (HR. al-Bukhârî).   

Ma’asyiral hadirin jama’ah jum’ah rohimakumullah,

Hijrah itu bermakna sangat luas, antara lain hijrah adalah meninggalkan adat atau tradisi fanatisme kesukuan, dan  meninggalkan dari segala yang dilarang oleh Allah ta’ala dan yang di dalamnya membahayakan manusia. Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diambil kesimpulan berkaitan dengan memuliakan bulan Muharram dan memperingati tahun baru Hijrah. Bahwa  dalam memuliakan dan memperingati tahun baru Hijriah harus memperhatikan hikmah atau pelajaran yang berharga dari peristiwa hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, dengan demikian hijrah bisa disimpulkan dengan, yang pertama : Hijrah itu adalah perpindahan dari keadaan yang kurang mendukung dakwah kepada keadaan yang mendukung.   Kedua : Hijrah itu adalah perjuangan untuk suatu tujuan yang mulia, karenanya memerlukan kesabaran dan pengorbanan.  Ketiga :  Hijrah itu adalah ibadah, karenanya motivasi atau niat adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan.  Keempat :  Hijrah itu harus untuk meraih persatuan dan kesatuan, bukan perpecahan.  Kelima:  Hijrah itu adalah jalan untuk mencapai kemenangan.  Keenam :  Hijrah itu mendatangkan rezeki dan rahmat dari  Allah ta’ala.   Ketujuh : Hijrah itu adalah teladan Nabi SAW dan para sahabat yang mulia, yang seyogianya kita ikuti.  firman Allah dalam surat al-Anfâl (8) ayat 74:

Artinya: Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi  pertolongan (kepada orang muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. 

Ma’asyiral hadirin jama’ah jum’ah rohimakumullah,

Datangnya tahun baru ini berarti kita telah memasuki babak baru untuk hitungan umur. Maka sebagaimana lazimnya sebuah Perusahaan pada setiap pergantian tahun, tentu mengadakan perhitungan, atau Rugi laba, keberhasilan dan kegagalan, begitu juga seharusnya dengan diri kita, dalam tahun baru ini kita harus mengadakan perhitungan pada diri sendiri. Untuk apakah waktu satu tahun yang telah lalu kita gunakan? Amal apa saja yang sudah kita perbuat ? Sudahkah kita berbuat banyak kebajikan? Sejauh mana kita telah menetapi dan melaksanakan perintah Allah ta’ala ? Dan bagaimana pula ibadah dan taqwa kita pada Allah ta’ala ? Semua itu yang hendaknya kita hitung sendiri sebelum nantinya dihitung oleh Allah ta’ala.

Berkata Sayyidina Umar bin Khottob RA:

حَاسِبُوْا أنـْفـُسَكُمْ قـَبْلَ أنْ تـُحَاسَبُوْا

Artinya:

Hitunglah atas diri kamu sendiri sebelum kamu nantinya dihitung oleh Allah ta’ala”

Ma’asyiral hadirin jama’ah jum’ah rohimakumullah,

Saran dari Sayyidina Umar RA diatas amatlah penting untuk kita laksanakan bersama, agar  kita dapat memmperbaiki diri; memohonkan ampunan Allah atas dosa-dosa kita dan mohon dikabulkannya amal kebaikan yang telah kita kerjakan, karena  amal kebaikan yang pernah kita laksanakan belum tentu diterima oleh Allah ta’ala, artinya setiap amal kebaikan bisa diterima tapi juga bisa ditolak, tidak demikian halnya dengan kejelekan yang kita perbuat, karena kejelekan itu pasti tetap dicatat kejelekan oleh Allah ta’ala.

Untuk itu marilah pada tahun baru Hijriyah ini kita berniat untuk melakukan perubahan-perubahan yang positif pada diri kita, agar kita tidak termasuk orang yang merugi atau orang yang celaka, seperti yang telah disabdakan Nabi SAW dalam sebuah Hadits-Nya:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ, وَمَنْ كانَ يَوْمُهُ سَوَاءً مِنْ أمْسِهِ فَهُوَ خُسْرَانٌ, وَمَنْ كانَ يَوْمُهُ شَرّا مِنْ أمْسِهِ فَهُوُ هَالِكٌ.

Artinya:“Barang siapa pada hari ini dalam keadaan yang lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung, dan barang siapa yang pada hari ini sama dari hari kemarin maka ia termasuk orang yang merugi, dan barang siapa yang pada hari ini dalam keadaan yang lebih buruk dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka”.

Ma’asyiral hadirin jama’ah jum’ah rohimakumullah,

Jika kita selalu berusaha untuk menambah amal ibadah  dan selalu ingat akan Allah ta’ala, maka Allah akan menjanjikan keselamatan bagi kita di dunia dan akhirat, akan tetapi jika kita tiada pernah berusaha untuk menambah amal ibadah  dan selalu menumpuk-numpuk dosa, maka Allah ta’ala akan murka dan akan menurunkan bencana bagi kita semua.

جَعَلنَا الله وَإيّاكُمْ مِنَ الفَائِزِيْنَ الأمِنِيْنَ, وَأدْخَلَنَا وَإيّاكُمْ فِي زُمْرَةِ المُوَحِّدِيْنَ الكاَمِلِيْنَ.

وَقـُلْ رَبِّ اغـْفِرْ وَارْحَمْ وَأنـْتَ خَيْرٌ الرّاحِمِيْنَ.

Komentar