Pengakuan Terhadap Nabi Muhammad SAW dan Kedaulatan Islam

elmihrab.com - Fath Makkah berarti penaklukan Kota Mekah, yaitu salah satu peperangan yang dipimpin Nabi Muhammad SAW melawan kaum kafir Quraisy Mekah pada tahun 8 Hijriyah. Dalam perang ini, Nabi Muhammad SAW mempersiapkan pasukan sebanyak 10.000 orang, terdiri atas golongan Muhajirin dan Anshar. 

Penyebab terjadinya peristiwa tersebut adalah pihak kafir Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiyah, yaitu perjanjian gencatan senjata antara pihak Nabi Muhammad SAW dan pihak kafir Quraisy yang ditandatangani pada bulan Dzulkaidah 6 ( bulan Maret 628). Dalam perjanjian ini, kedua belah pihak menyepakati tidak saling menyerang selama sepuluh tahun.

Menurut Muhammad Husein Haekal (1888-1956), seorang sejarawan Mesir, isi perjanjian ini merupakan suatu hasil politik yang bijaksana dan memiliki pandangan jauh ke dapan. Perjanjian ini membawa pengaruh yang sangat besar terhadap masa depan Islam dan orang-orang Arab. Dengan perjanjian ini, berarti untuk pertama kali Quraisy mengakui Nabi Muhammad SAW bukan sebagai pemberontak terhadap mereka, melainkan sebagai orang yang memiliki kedudukan sejajar dengan mereka, sekaligus diakuinya pula kedaulatan Islam.

Pada saat gencatan senjata tersebut ditandatangani, pihak Khuza’ah, kabilah Arab besar dan ternama yang pernah menguasai Mekah beberapa abad, segera bergabung dengan Nabi Muhammad SAW, sedangkan Bani Bakar, Kabilah Arab yang bertentangan dengan Khuza’ah, bergabung dengan pihak Quraisy. Dengan bantuan dari pihak Quraisy, pihak Bani Bakar mengambil kesepakatan pada tahun 8 Hijriyah untuk membalaskan dendamnya kepada pihak Khuza’ah. Berita ini kemudian disampaikan oleh wakil Khuza’ah, Amr bin Salim, kepada Rasulullah SAW. Perbuatan kafir Quraisy membantu bani Bakar mengadakan penyerangan terhadap pihak Khuza’ah merupakan pengkhianatan terhadap perjanjian gencatan senjata. Oleh karena itu, Rasulullah SAW berniat menyerang kafir Quraisy dan menerbu Mekah sebagai pusat kekuatan mereka.

Berita tentang niat Rasulullah SAW ini didengar oleh pihak Quraisy sehingga mereka merasa bersalah. Untuk memperbaiki kesalahan, pihak Quraisy mengutus Abu Sufyan untuk berunding dengan Muhammad SAW di Madinah. Namun Nabi Muhammad SAW telah mengetahui bahwa kedatangan Abu Sufyan buakan untuk mengakui kesalahannya, melainkan ingin mengadakan pembaruan perjanjian. Nabi Muhammad SAW tidak ingin mengadakan perjanjian baru dan tetap bertahan dengan perjanjian Hudaibiyah. Oleh karena itu, Abu Sufyan diminta pulang ke Mekah tanpa membawa hasil sesuai yang dikehendaki oleh pihak Quraisy. Pada saat itu, Rasulullah SAW menyerukan kepada para sahabatnya untuk siap berjihad menuju Mekah.

Bersama 10.000 pasukan, Rasulullah SAW memulai perjalanan menuju Mekah. Sebelum masuk Kota Mekah, Nabi Muhammad SAW terlebih dulu membagi pasukannya menjadi empat bagian, yaitu

Pasukan pertama dipimpin Zubair bin Awwam;

Pasukan kedua dipimpin Khalid bin Walid;

Pasukan ketiga dipimpin Sa’d bin Ubadah;

Pasukan keempat dipimpin Abu Ubaidah bin Jarrah.

Semua pasukan diperintahkan agar tidak melakukan pertempuran, kecuali dalam keadaan terpaksa. Pasukan Rasulallah SAW pun tidak mendapatkan perlawanan yang berarti, kecuali pasukan Khalid bin Walid yang memperoleh perlawanan dari orang-orang yang paling keras memusuhi Nabi Muhammad SAW, termasuk mereka yang melanggar perjanjian Hudaibiyah dengan melancarkan serangan kepada Khuza’ah. Kelompok ini dipimpin oleh Sofwan, Suhail, Ikrimah bin Abi Jahal. Setelah tidak ada perlawanan lagi, Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya melakukan tawaf mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali. Selanjutnya, Nabi Muhammad SAW memerintah para sahabat menghancurkan berhala dan gambar berhala yang ada di dalam dan di sekeliling Kabah.

Dengan jatuhnya Mekah dan tunduknya pihak Quraisy, berarti kekuasaan berhala telah lenyap dan Islam mulai berdiri tegak. Setelah berhala-berhala itu dibersihkan dari Kabah, Nabi Muhammad SAW meminta Bilal mengumandangkan azan dari atas Kabah. Kemudian, orang-orang melakukan salat bersama-sama dan Nabi Muhammad SAW bertindak sebagai imam.

Keesokan harinya setelah pembebasan Mekah, ada seorang dari pihak Huzail yang masih musyrik dibunuh oleh Khuza’ah. Atas kejadian ini, Nabi Muhammad SAW marah. Dalam khotbahnya di hadapan orang banyak, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Wahai manusia sekalian! Allah telah menjadikan Mekah ini tanah suci sejak Dia menciptakan langit dan bumi. Ia suci sejak pertama, kedua, dan seterusnya hingga hari kiamat. Oleh karena itu, orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat tidak dibenarkan mengadakan pertumpahan darah dan menebang pohon di tempat ini, kecuali untuk saat ini,” Larangan inilah yang menjadikan Mekah kemudian dikenal sebagai “Tanah Haram”. Beberapa hari kemudian, kunci Kabah pindah ke tangan Nabi Muhammad SAW dan selanjutnya diserahkan pada Utsman bin Thalha, setelah itu kepada anak-anaknya. Kunci tersebut tidak boleh dipindahkan kepada orang lain. Adapun pemeliharaan air zam-zam pada musim haji dipercayakan kepada paman Nabi Muhammad SAW, Abbas bin Abdul Muthalib.

Sekalipun Kota Mekah telah dibebaskan dari berhala dan kekuasaan kaum musyrik pun telah dilumpuhkan, masih ada beberapa kabilah di sekitar Mekah yang belum tunduk pada dakwah Nabi Muhammad SAW, di antaranya kabilah Bani Syaiban di Nakhlah dan kabilah Hawazain, Saqif, Nasr, dan Jusyam di Hunain dan Tha’if. Terhadap Bani Syaiban, Rasulullah SAW mengutus pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid. Setelah seruan menyerah tidak mereka pedulikan, pasukan Khalid menyerang dan merekapun dapat ditundukkan. Adapun kabilah yang ada di Hunain dan Tha’if, Nabi Muhammad SAW sendiri yang memimpin penaklukan kabilah tersebut. Dengan pasukan 12.000 orang (tambahan 2.000 pasukan orang Mekah yang telah masuk Islam). Pada penyerangan kali ini, pasukan Nabi Muhammad SAW hampir mengalami kekalahan. Tetapi berkat ketenangan Nabi Muhammad SAW dan kegigihan pasukanya serta pengaruh seruan Abbas bin Abdul Muthallib untuk tetap bertahan, musuh dapat ditaklukkan. Dengan kemenangan pasukan muslim ini, seluruh kabilah yang ada di Mekah dan sekitarnya menyatakan memeluk Islam.

 

Sumber: Kandu, Amirullah. 2010. Ensiklopedia Dunia Islam. Bandung: Pustaka Setia – https://id.wikipedia.org/wiki/Pembebasan_Mekah

Kurniawan / Qodiriyyan

Komentar