Universitas Al-Azhar: Peninggalan Dinasti Fatimiyah untuk Dunia

elmihrab- Ketika kita mendengar nama Al-Azhar, hal yang pertama kali kita bayangkan adalah sebuah kampus dengan usia seribu tahun yang terletak di Kairo, Mesir, yang termasyur di dunia Islam. Lalu, Bagaimana sejarah Universitas Al-Azhar didirikan?

Awalnya,  Al-Azhar sendiri adalah nama sebuah masjid yang dibangun penguasa Syi’ah Ismailiyah dari Dinasti Fatimiyah, tetapi kemudian terkenal sebagai masjid kelompok Sunni hingga sekarang. Dinasti Fatimiyah didirikan pada 909 M oleh Abdullah al-Mahdi Billa yang melegitimasi klaimnya melalui keturunan dari Nabi Muhammad SAW dari jalur Fatimah Az-Zahra dan suaminya Ali bin Abi Thalib (Imam Syi’ah pertama). Oleh karena itu, negeri ini bernama al-Fatimiyyun  "Fatimiyah".Setelah Dinasti Fatimiyah jatuh, masjid Al-Azhar dijadikan sebagai kampus untuk universitas.

Lembaga pendidikan Al-Azhar diresmikan oleh Khalifah Muizz Lidinillah (341-365 H/ 953-975 M) yang seorang Syi’ah. Khalifah Al-Muiss Lidinillah memerintahkan panglima Jauhar Al-Katib As-Siqilli agar meletakkan batu pertama bagi pembangunan Masjid Jami’ Al-Azhar yang selesai dibangun pada tahun 361 H/ 971 M. Nama pertama masjid ini adalah Jami’ Al-Qahirah, dinisbatkan pada nama ibukota tempat masjid didirikan. Kemudian, masjid ini diberi nama Masjid Al-Azhar, dinisbatkan kepada nama Fatimiyah Az-Zahra putri Rasulullah SAW. Pada masa Dinasti Fatimiyah, Jauhar Al-Katib As-Siqilli menginstruksikan untuk tidak menyebut bani Abbas dalam setiap khotbah Jumat, juga mengharamkan pemakaian jubbah hitam serta atribut bani Abbas lainnya.pakaian yang dipakai untuk khotbah Jumat adalah pakaian putih. Azan diganti dengan Hayya ‘ala khair al-a’mal.

Hampir satu abad (567-665 H/ 1711-1267 M), Masjid Al-Azhar tidak digunakan untuk salat Jumat. Khalifah Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima laskar yang berhasil menurunkan Khalifah Fatimiyah terakhir, Al-Adid pada tahun 1171 M, menginstruksikan salat Jumat di Masjid Al-Hakim karena tidak sahnya hukum dua khotbah salat Jumat dalam satu kota.

 Pada masa berikutnya, salah seorang penguasa Dinasti Mamluk, Amir Izzudin Aidmur Al-Hilli mengusulkan pada Sultan Az-Zahir Baybar agar mengaktifkan kembali salat Jumat di Masjid Al-Azhar. Sebelum sultan menginstruksi untuk pemanfaatan kembali Masjid Al-Azhar, beliau berkonsultasi dengan hakim agung terlebih dahulu. Hakim agung menolak usul sultan karena menganggap bertentangan dengan madzhab Syafi’i. Oleh karena itu, hakim agung dibebaskan dari jabatannya dan seseorang yang bermadzhab Hanafi. Kemudian diangkat sebagai penggantinya yang membolehkan dua khotbah Jumat dalam satu kota. Dalam hal ini Amir Izzudin Aidmur Al-Hilli berhasil memfungsikan kembali Masjid Al-Azhar untuk salat Jumat.

Perhatian sultan cukup besar dan terbukti dari biaya yang dikeluarkan bersama amir untuk memperbaiki bagian-bagian masjid yang retak serta menambah satu ruangan khusus untuk para ulama ahli fikih yang akan mengajarkan fikih, ahli hadis yang mengajarkan hadis-hadis Rasulullah SAW, dan ahli qira’ah yang akan mengajarkan Al-Qur’an.

Sebagai lembaga keagamaan, Masjid Al-Azhar berfungsi sebagai pusat kegiatan Al-Muhtasib, yaitu jabatan agama yang penting dalam Dinasti Fatimiyah, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. setiap tanggal 12 Rabiulawal, hari Asyura setiap tanggal 10 Muharram, dan perayaan lainnya, seperti setiap tanggal 1 Rajab, 15 Rajab, 1 Sya’ban, dan 15 Sya’ban yang disebut “Malam Cahaya”. Al-Azhar juga berfungsi sebagai tempat siding khalifah, siding peradilan, dan pertemuan para hakim pada hari-hari tertentu.

Pada masa pemerintahan Mamluk (1250-1517 M) melakukan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan mulai meningkat. Hal ini dikarenakan Dinasti Mamluk meminta para ulama supaya membukukan berbagai cabang ilmu pengetahuan sehingga banyak karya ulama yang ditulis pada masa ini. Setiap buku yang dikarang harus dibubuhi nama sultan atau amir tertentu. Teknik penulisan yang dipakai pada waktu itu adalah sebagai berikut: (1)ringkasan-ringkasan yang mencakup berbagai cabang ilmu pengetahuan; (2) Syuruh, menerangkan berbagai masalah yang terkandung dalam matan; (3) Hawasyi (catatan pinggir); (4) Taqarir, berupa penjelasan dan komentar atas masalah tertentu yang terdapat dalam hawasyi.

Jabatan Syekh Al-Azhar dibentuk pada tahun 925 H/ 1517 M. Sejak itu, Syekh Al-Azhar-lah orang pertama yang berhak memberikan penilaian atas reputasi ilmiah bagi tenaga pengajar, mufti, dan hakim. Pada masa kepemimpinan Syekh Mahmud Syaltut, Rektor Al-Azhar ke-41, keluar undang-undang pembaruan yang disebut UU Revolusi Mesir no. 103 Tahun 1961 yang mengatur organisasi Al-Azhar. Pada tahun 1962, Al-Azhar membuka pintunya bagi kaum wanita dan Dr. Zainab Rashid membuka fakutas wanita (Al-Azhar Woman’s College) yang ditempatkan di gedung-gedung baru dengan jumlah mencapai lebih dari tiga ribu mahasiswi yang datang dari penjuru dunia Islam.

Pada abad ke-20, Al-Azhar memperhatikan hasil-hasil yang telah dicapai oleh sarjana ketimuran dalam bidang studi keislaman dan kearaban. Al-Azhar mulai memandang perlu mempelajari sistem penelitian yang dilakukan oleh universitas-universitas Barat, dan mengirim alumninya yang dipandang mampu untuk belajar ke Eropa dan Amerika. Tujuan pengiriman ini adalah mengikuti perkembangan ilmiah di tingkat internasional.

Jadi, Kaum Sunni hanya melanjutkan dan mengembangkan kegiatan pendidikan yang sudah dirintis oleh Dinasti Fatimiyah. Semula, ide membuat lembaga pendidikan itu adalah untuk mengembangkan madzhab Syi’ah Ismailiyah. Namun, kemudian berkembang menjadi sebuah universitas hingga saat ini.

Penulis: Kurniawan/ Qodiriyyan

Sumber:

Kandu, Amirullah. 2010. Ensiklopedi Dunia Islam. Bandung: Pustaka Setia.

https://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Al-Azhar

.

Komentar