Sejarah Berdirinya Tarekat Qadiriyah

 

elmihrab- Tarekat atau thariqah secara harfiah berarti ‘jalan’, seperti syariah, sabil, shirath, dan manhaj, yaitu jalan menuju Allah guna mendapatkan ridho-Nya dengan menaati ajaran-ajaran-Nya. Semua perkataan yang berarti jalan itu terdapat dalam Al-Qur’an, seperti QS Al-Jin:16,” Kalau saja mereka berjalan dengan teguh di atas thariqah, maka Kami (Allah) pasti akan melimpahkan kepada mereka air (kehidupan sejati) yang melimpah ruah”.

Istilah tarekat dalam perbendaharaan kesufian merupakan hasil makna semantik perkataan tersebut. Setiap ajaran esoteric ‘batin’ mengandung segi-segi eksklusif. Jadi, hal tersebut tidak bisa dibuat untuk orang umum (awam), misalnya menyangkut hal-hal yang bersifat rahasia yang bobot kerohaniannya berat sehingga membuatnya sukar dimengerti. Oleh sebab itu, mengamalkan tarekat itu harus melalui guru (mursyid) dengan bai’at dan guru yang mengajarkannya harus mendapat ijazah, talqin dan wewenang dari guru tarekat sebelumnya, seperti terlihat pada silsilah ulama sufi dari Rasulullah Saw, sahabat, ulama sufi di dunia Islam sampai ke ulama sufi di Indonesia.

Tumbuhnya tarekat dalam Islam sesungguhnya bersamaan dengan kelahiran agama Islam itu sendiri, yaitu sejak Nabi Muhammad Saw diutus menjadi Rasul. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pribadi Nabi Muhammad Saw sebelum diangkat menjadi rasul telah berulang kali melakukan tahannuts dan khalwat di Gua Hira untuk mengasingkan diri dari masyarakat Makkah yang sedang mabuk mengikuti hawa nafsu keduniaan. Tahhanuts dan khalwat nabi adalah untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hati dalam menempuh problematika dunia yang kompleks tersebut.

Proses khalwat nabi yang kemudian disebut tarekat tersebut sekaligus diajarkannya kepada Sayidina Ali ra. sebagai sahabat sekaligus menantunya. Dari situlah kemudian Sayidina Ali mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya sampai kepada Syekh Abdul Qodir Jaelani hingga tarekatnya dinamai Qodiriyah, sebagaimana dalam silsilah tarekat Qadiriyah yang merujuk pada Ali dan Abdul Qadir Jaelani, seterusnya naik ke atas dari Nabi Muhammad Saw, dari Malaikat Jibril, dan  dari Allah Swt.

Tarekat Qodiryah didirikan oleh Syekh Abdul Qodir Jaelani (wafat 561 H/1166M) yang bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani. Lahir di Jilan tahun 470 H/1077 M dan wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, waktu itu dipimpin Ahmad al-Ghazali yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali. Akan tetapi, Syekh Abdul Qodir Jaelani tetap belajar sampai mendapat ijazah dari gurunya yang bernama Abu Yusuf al-Hamadany (440-535 H/1048-1140 M) di kota yang sama itu sampai mendapatkan ijazah.

Tarekat Qodiriyah ini dikenal luwes, yaitu bila murid sudah mencapai derajat syekh, murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti tarekat gurunya. Bahkan, dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya. Hal itu diketahui pada ungkapan Syekh Abdul Qadir Jaelani sendiri bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya, dia jadi mandiri sebagai syekh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya.

Karena keluwesannya tersebut, terdapat puluhan tarekat yang masuk dalam kategori Qidiriyah di dunia Islam, seperti Banawa yang berkembang pada abad ke-19, Ghawtsiyah (1517), Junaidiyah (1515 M), Kamaliyah (1584 M), Miyan Khei (1550 M), Qumaishiyah (1584), Hayat al-Mir. semuanya tersebut di India. Di Turki ada tarekat Hindiyah, Khulusiyah, Nawshahi, Rumiyah (1631 M), Nabulsiyah, Waslatiyyah. Di Yaman ada tarekat Ahdaliyah, Asadiyah, Mushariyyah, ‘Urabiyyah, Yafi’iyah (718-768 H/1316 M) dan Zayla’iyah. Di Afrika terdapat tarekat Ammariyah, Bakka’iyah, Bu’Aliyya, Manzaliyah dan tarekat Jilala, nama yang biasa diberikan masyarakat Maroko kepada Abdul Qodir Jilani. Jilala dimasukkan dari Maroko ke Spanyol, diduga setelah keturunannya pindah dari Granada sebelum kota itu jatuh ke tangan Kristen pada tahun 1492 M dan makam mereka disebut Syurafa Jilala.

Dari keteladanan Nabi Muhammad Saw dan sabahat Ali ra dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt tersebut, yang kemudian disebut tarekat, tarekat Qodiriyah menurut ulama sufi juga memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendekat dan mendapat ridho dari Allah swt. Oleh sebab itu, dengan tarekat, manusia harus mengetahui hal-ikhwal jiwa dan sifat-sifatnya yang baik dan terpuji untuk kemudian diamalkan, serta yang tercela yang harus ditinggalkannya.

Misalnya dengan mengucapkan kalimat tauhid, zikir Laailahaillaallah dengan suara nyaring, keras (dhahir) yang disebut nafi isbat adalah contoh ucapan zikir dari Syekh Abdul Qadir Jaelani dari Sayidina Ali bin Abi Thalib ra, hingga disebut tarekat Qodiriyah. Selain itu, dalam setiap selesai melaksanakan salat lima waktu (Dhuhur, Asar, Maghrib, Isya’ dan Subuh) diwajibkan membaca istighfar tiga kali atau lebih lalu membaca salawat tiga kali, Laailahaillaallah 165 kali, sedangkan di luar shalat agar berzikir semampunya. Dalam mengucapkan lafadz Laa pada kalimat Laailahaillaallah kita harus konsentrasi dengan menarik nafas dari perut sampai ke otak.

Kemudian disusul dengan bacaan Ilaha dari arah kanan dan diteruskan dengan membaca Illaallah ke arah kiri dengan penuh konsentrasi, menghayati dan merenungi arti yang sedalam-dalamnya, serta hanya Allah Swt  tempat manusia kembali sehingga akan menjadikan diri dan jiwanya tentram dan terhindar dari sifat dan perilaku yang tercela.

Menurut ulama sufi, (al-Futuhat al-Rubbaniyah), melalui tarekat mu’tabarah tersebut, setiap muslim dalam mengamalkannya akan memiliki keistimewaan, kelebihan, dan karomah masing-masing. Ada yang terkenal sebagai ahli ilmu agama seperti sahabat Umar bin Khattab, ahli syiddatil haya’ sahabat Usman bin Affan, ahli jihad fisabilillah sahabat Hamzah dan Khalid bin Walid, ahli falak Zaid al-Farisi, ahli syiir Hasan bin Tsabit, ahli lagu Al-Qur’an sahabat Abdillah bin Mas’ud dan Ubay bin Ka’ab, ahli hadis Abi Hurairah, ahli azan sahabat Bilal dan Ibni Ummi Maktum, ahli mencatat wahyu pada Nabi Muhammad Saw  sahabat Zaid bin Tsabit, ahli zuhud Abi Dzarr, ahli fiqh Mu’ad bin Jabal, ahli politik peperangan sahabat Salman al-Farisi, ahli berdagang adalah Abdurrahman bin A’uf dan sebagainya.

Bai’at

Untuk mengamalkan tarekat tersebut, murid akan melalui tahapan-tahan. Pertama, adanya pertemuan guru (syekh) dan murid, mengerjakan salat dua rakaat (sunnah muthlaq) lebih dahulu, diteruskan dengan membaca surat al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi Muhammad Saw. Kemudian murid duduk bersila di depan guru dan mengucapkan istighfar, lalu guru mengajarkan lafadz Laailahaillaallah, dan guru mengucapkan, “infahna binafhihi minka” dan dilanjutkan dengan ayat mubaya’ah (QS Al-Fath 10). Kemudian guru mendengarkan kalimat tauhid (Laa Ilaha Illallah) sebanyak tiga kali sampai ucapan sang murid tersebut benar dan itu dianggap selesai. Kemudian guru berwasiat, mem-bai’at sebagai murid, berdoa, dan minum. Kedua, tahap perjalanan. Tahapan kedua ini memerlukan proses panjang dan bertahun-tahun. Karena murid akan menerima hakikat pengajaran, ia harus selalu berbakti, menjunjung segala perintahnya, menjauhi segala larangannya, berjuang keras melawan hawa nafsunya dan melatih dirinya (mujahadah-riyadhah) hingga memperoleh dari Allah seperti yang diberikan pada para nabi dan wali.

Qodiriyah di Indonesia

Seperti halnya tarekat di Timur Tengah. Sejarah tarekat Qodiriyah di Indonesia juga berasal dari Makkah al-Musyarrafah. Tarekat Qodiriyah menyebar ke Indonesia pada abad ke-16, khususnya di seluruh Jawa, seperti di Pesantren Pegentongan Bogor Jawa Barat, Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat, Mranggen Jawa Tengah, Rejoso Jombang Jawa Timur, dan Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Syekh Abdul Karim, dari Banten, yang juga murid kesayangan Syekh Khatib Sambas yang bermukim di Makkah, merupakan ulama paling berjasa dalam penyebaran tarekat Qodiriyah. Murid-murid Sambas yang berasal dari Jawa dan Madura setelah pulang ke Indonesia menjadi penyebar Tarekat Qodiriyah tersebut.

Tarekat ini mengalami perkembangan pesat pada abad ke-19, terutama ketika menghadapi penjajahan Belanda. Sebagaimana diakui oleh Annemerie Schimmel dalam bukunya Mystical Dimensions of Islam hal.236 yang menyebutkan bahwa tarekat bisa digalang untuk menyusun kekuatan untuk menandingi kekuatan lain. Juga di Indonesia, pada Juli 1888, wilayah Anyer di Banten Jawa Barat dilanda pemberontakan. Pemberontakan petani yang seringkali disertai harapan yang mesianistik memang sudah biasa terjadi di Jawa, terutama dalam abad ke-19 dan Banten merupakan salah satu daerah yang sering memberontak.

Pemberontakan tersebut benar-benar mengguncang Belanda karena dipimpin oleh para ulama dan kiai. Hasil penyelidikan Martin van Bruneissen, Belanda, menunjukkan mereka itu pengikut tarekat Qodiriyah, Syekh Abdul Karim bersama khalifahnya yang bernama KH Marzuki, pemimpin pemberontakan tersebut, hingga Belanda kewalahan. Pada tahun 1891 pemberontakan yang sama terjadi di Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada tahun 1903 KH Khasan Mukmin dari Sidoarjo Jatim, serta KH Khasan Tafsir dari Krapyak Yogyakarta juga melakukan pemberontakan yang sama.

Sementara itu, organisasi agama yang tidak bisa dilepaskan dari tarekat Qodiriyah adalah organisasi terbesar Islam Nahdlaltul Ulama (NU) yang berdiri di Surabaya pada tahun 1926. Bahkan, tarekat yang dikenal sebagai Qadariyah Naqsabandiyah sudah menjadi organisasi resmi di Indonesia. Juga pada organisasi Islam Al-Washliyah dan lain-lainnya.

Dalam kitab Miftahus Shudur yang ditulis KH Ahmad Shohibulwafa Tadjul Arifin (Mbah Anom) di Pimpinan Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya Jabar dalam silsilah tarekatnya menempati urutan ke-37, sampai merujuk pada Nabi Muhammad Saw, Sayyidina Ali ra, Abdul Qadir Jilani dan Syekh Khatib Sambas ke-34.

Sama halnya dengan silsilah tarekat almrhum KH Mustain Romli, Pengasuh Pesantren Rejoso Jombang Jatim, yang menduduki urutan ke-41 dan Khatib Sambas ke-35. Beliau mendapat talqin dan bai’at dari KH Moh Kholil Rejoso Jombang, KH Moh Kholil dari Syekh Khatib Sambas ibn Abdul Ghaffar yang alim dan arifillah (telah mempunyai ma’rifat kepada Allah) yang berdiam di Makkah di Kampung Suqul Lail.

Silsilahnya.

M Mustain Romli, 2, Usman Ishaq, 3. Moh Romli Tamim, 4. Moh Kholil, 5. Ahmad Hasbullah ibn Muhammad Madura, 6. Abdul Karim, 7. Ahmad Khotib Sambas ibn Abdul Gaffar, 8. Syamsuddin, 9. Moh. Murod, 10. Abdul Fattah, 11. Kamaluddin, 12. Usman, 13. Abdurrahim, 14. Abu Bakar, 15. Yahya, 16. Hisyamuddin, 17. Waliyuddin, 18. Nuruddin, 19. Zainuddin, 20. Syarafuddin, 21. Syamsuddin, 22. Moh Hattak, 23. Syekh Abdul Qadir Jilani, 24. Ibu Said Al-Mubarak Al-Mahzumi, 25. Abu Hasan Ali al-Hakkari, 26. Abul Faraj al-Thusi, 27. Abdul Wahid al-Tamimi, 28. Abu Bakar Dulafi al-Syibli, 29. Abul Qasim al-Junaid al-Bagdadi, 30. Sari al-Saqathi, 31. Ma’ruf al-Karkhi, 32. Abul Hasan Ali ibn Musa al-Ridho, 33. Musa al-Kadzim, 34. Ja’far Shodiq, 35. Muhammad al-Baqir, 36. Imam Zainul Abidin, 37. Sayyidina Husein, 38. Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, 39. Sayyidina Muhammad Saw, 40. Sayyiduna Jibril dan 41. Allah Swt.

Masalah silsilah tersebut memang berbeda satu sama lain karena ada yang disebut secara keseluruhan dan sebaliknya. Selain itu, berbeda juga guru di antara para kiai itu sendiri.

 

Sumber:  http://www.sufinews.com/qodiriyah/

Komentar