Strategi Dakwah Alkulturasi Islam Sunan Kudus

Sunan Kudus adalah salah satu penyebar agama Islam di Indonesia yang tergabung dalam walisongo, yang lahir sekitar 1500an Masehi. Nama lengkapnya adalah nama Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan. Ia adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung. Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. Bapaknya yaitu Sunan Ngudung adalah putra Sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha (Raja Pandita / Raden Santri) yang berhijrah fi sabilillah hingga ke Jawa dan sampailah di Kesultanan Islam Demak dan diangkat menjadi Panglima Perang.

Sebagai artefak Islam Nusantara, Menara Kudus adalah contoh tercantik dari keberhasilan dakwah kultural Islam. Dengan demikian, Menara Kudus bisa dijadikan counter discourse atas gerakan dakwah politik dari radikalisme Islam. Sunan Kudus berhasil menemukan dua makna, antara makna Islam dan Hindu-Budha. Hindu-Budha karena di Menara juga terdapat ”delapan jalan Budha” (Asta Sanghika Marga) yang simbolnya masih digunakan di ”padasan” wudlu.

Menara adalah candi, sebab banyak kalangan yang melihat candi-Menara sebelum di-Menara-kan adalah Pure Agung. Yakni pure besar tempat penyimpanan abu jenazah para bangsawan Majapahit. Kemungkinan candi-Menara merupakan Pure Agung ini mumkin saja, mengingat di sekitar Menara terdapat candi-candi kecil, yang oleh mitos masyarakat disebut ”masjid bubar”. Menarik kiranya, karena ”masjid bubar” yang memang berupa reruntuhan candi itu, disebut Slamet Muljana sebagai candi-candi rakyat yang runtuh terbengkalai bersamaan dengan runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak.

Belum ada studi yang mengungkap pergulatan Islam-Hindu di Kudus. Sayapun sendiri ketika bicara dalam konteks Islamic studies lebih sepakat dengan pendekatan Islam akulturatif (meskipun juga mendukung usaha penggalian pergulatan Islam-Hindu tersebut). Artinya, meskipun Islam hadir sembari membawa budaya baru, namun konversi Islam tidaklah bersifat ikonoklastik: menghancurkan ikon lokal. Menara Kudus adalah bukti terbesar. Artinya, ketika fungsi ke-menaraan telah mengonversi fungsi candi, justru ke-menaraan itu menjadi bukti bahwa Islam hadir, tidak memusnahkan ikon lokal. Sebaliknya, ia hadir menghargai dan memijakkan diri pada kearifan lokal itu.

Ini yang disebut pribumisasi Islam. Yakni ”peminjaman bentuk budaya”, sehingga Islam bisa membumi di ”pangkalan kultural” masyarakat setempat. Ketika Pure Agung itu dijadikan Menara, maka masyarakat asli Kudus pastilah merasakan ”kenyamanan spiritual” sebab pergantian agama ditopang oleh budaya, tempat mereka hidup menimba makna. Akhirnya tak ada yang berubah di dalam struktur masyarakat. Yang berubah hanyalah struktur makna. Struktur masyarakat Kudus ajeg, dalam kearifan lokalnya. Hanya saja, struktur maknanya telah berubah, dari makna Hindu-budha, kepada Islam. Inilah corak unik dari keberagamaan Jawa. Yakni sifatnya yang eklektis. Jawa dan Nusantara adalah bumi yang subur. Ia bisa menerima benih apa saja yang datang dari luar, menyerbukkan sarinya, dan menumbuhkannya sesuai corak tanahnya.

Dalam budaya Jawa pra-Hindu-Budha, arsitektur-ruhani merujuk pada Gunung Meru. Artinya, Gunung memang menjadi simbol spiritual masyarakat Jawa kuno, sebab melaluinya, manusia yang berada di Dunia Tengah, bisa naik ke Dunia Atas (Langit), tempat para dewa. Dengan menaiki Gunung, manusia menaikkan derajatnya dari makhluk profan, menjadi makhluk sakral. Dari sini mafhum, kenapa pusat mistisisme Kudus ada di pegunungan: mistisisme Jawa di Rahtawu, mistisisme Islam di Gunung Muria (Sunan Muria).

Dari bentuk Gunung Meru inilah, corak candi Hindu dan Budha menemu bentuknya. Hal ini yang kemudian ditangkap oleh Walisongo. Sunan Kalijaga menangkapnya, dan mengabadikannya dalam Masjid Demak beratap Meru, dengan tiga tahapan iman, Islam, ihsan. Sunan Kudus mengabadikannya dalam Menaraisasi Pure Agung Kudus. Keduanya sama. Berangkat dari kontinuitas tradisi arsitektur ruhaniah masyarakat Jawa, yang merujuk pada Gunung Meru.

Gus Dur menyebut keberislaman ini sebagai perwujudan kultural Islam. Artinya, manifestasi Islam dalam bentuk sosialnya berwujud kultural. Bentuk ini bolehlah penulis sebut sebagai bentuk antropologis. Yakni bentuk keberislaman yang membentuk dirinya dalam selaksa simbol yang menghiasi keseharian masyarakat. Dalam bentuk antropologis ini, keberislaman bersifat simbolik, yang menandakan suatu kesinambungan tradisional antara tradisi pra-Islam dengan tradisi Islam. Dalam perwujudan kultural Islam, Islam dihayati melalui tradisi di masyarakat, dan tradisi itu dijaga oleh simbol yang dirayakan maknanya oleh seluruh masyarakat. Dengan demikian, Islam telah menubuh ke dalam batin keseharian muslim, karena umat Islam bisa merasakan makna Islam dalam simbol yang begitu nampak dalam hidup sehari-hari.

Sunan Kudus dengan Menaranya telah menunjukkan strategi kultural Islam ini. Dengan meminjam ”bentuk budaya” candi, maka Islam akhirnya mewujudkan diri dalam bentuk kultural. Yakni dalam suatu karya budaya bernama Menara. Dengan demikian, ia hadir menawarkan isi baru tetapi tetap menjaga bentuk budaya yang ada di masyarakat. Sifat kultural dari keislaman Sunan Kudus ini terletak pada konversi Islam yang damai, karena ia menggunakan strategi kultural, bukan politik. Jika politik, maka segenap karya budaya lokal yang merepresentasikan agama pra-Islam, pastilah dibumihanguskan.

Sebab strategi politik bersifat menguasai, dan memuara pada kekuasaan yang tentunya meniadakan yang liyan. Sementara itu strategi kultural justru membumikan Islam ke dalam kultur masyarakat, karena Islam itu sendiri bersifat kultural. Artinya, ia mampu mengaliri nafas kebajikan masyarakat. Ia mampu menelusupkan makna baru, tanpa harus merubah sama sekali simbol di masyarakat. Strategi ini akhirnya tidak bersifat formalis, selayak dakwah Islam formalis saat ini.

Dengan menjadikan Menara sebagai tipe ideal bagi pribumisasi Islam, maka karya Sunan Kudus ini bisa dijadikan sebagai counter balancing atas radikalisme Islam. Ya. Jika pada level nasional, kita masih dipusingkan dengan Islam puritan yang sering menggunakan kekerasan dalam berdakwah ini.

Maka Menara Kudus bisa menjadi lawan bandingnya. Menara Kudus dan strategi dakwah kultural Sunan Kudus bisa ditampilkan di hadapn dunia Islam, sebagai fakta historis Islam Nusantara, yang memuat kearifan hidup yang begitu luhur. Di dalamnya terdapat kesadaran budaya Islam, yang menempatkan Islam tidak semata sebagai cita-cita kenegaraan, melainkan cita kebudayaan yang hidup secara selaras dengan nafas kebajikan masyarakat.

Sumber :   
https://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Kudus 
Strategi Dakwah Sunan Kudus (2014) oleh Syaiful Arif

Komentar