Kesenian Tari Topeng, Sebagai Media Dakwah Masa Walisongo

Tari topeng adalah salah satu jenis seni pertunjukan yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Di Pulau Jawa, tarian topeng ini tumbuh dan berkembang di  seluruh Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogjakarta dan DKI Jakarta. Tari Topeng mencapai bentuknya sebagai seni pertunjukan pada jaman raja- raja Hindu di Jawa diperkirakan abad ke 10- 11 Masehi (Wahidin, 2006: 14).

Awalnya Tari topeng memiliki arti tidak hanya sebagai sebuah tontonan atau hiburan, tetapi lebih dari itu memiliki arti keagamaan. Seperti diungkapkan Erika Bourguignon (Wahidin, 2006: 14):

Topeng “Kedok”, mulanya dikenakan untuk menyembunyikan identitas asli pemakainya.

Topeng juga sering ditampilkan pada upacara inisiasi anak-anak yang menjelang dewasa. Mereka percaya bahwa roh-roh leluhur dalam wujud orang-orang bertopeng benar-benar datang dan turun ke bumi menemui mereka. Bahkan hingga saat ini, bagi masyarakat tertentu yang masih menganut kepercayaan Indonesia asli, tari topeng dijadikan media upacara adat ritual untuk menghormati nenek moyang. Hal itu, banyak ditemukan dalam upacara adat “Ngunjung”, yaitu upacara menghormati arwah nenek moyang, dari buyut-buyut atau leluhur di makam mereka yang dikeramatkan.

Tari topeng sendiri diciptakan oleh Sunan Kalijaga putera bupati Tuban, Jawa Timur.  Tari topeng kemudian menjadi kesenian yang dipelihara oleh kaum bangsawan di Istana Keraton. Namun, pada saat pusat pemerintahan pindah dari Jawa Timur ke Jawa Tengah dan para raja- raja memeluk agama Islam, sepenuhnya Tari topeng ditinggalkan dan berkembang di lingkungan masyarakat biasa yang belum sepenuhnya melepaskan kepercayaannya. Kemudian pada saat Cirebon menjadi pusat penyebaran agama Islam, Sultan Cirebon Syekh Syarif Hidayatullah bersama-sama dengan Sunan Kalijaga dan puteranya Pangeran Penggung mengangkat kembali seni topeng yang saat itu digemari masyarakat, dijadikan sebagai media penerangan dalam penyebaran agama Islam.

Pada prakteknya, Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati mempergelarkan Tari Topeng dengan penari seorang Pria yang disebut Dalang. Pertunjukkan Tari topeng pada saat itu, tidak bisa dipisahkan dari wayang kulit. Pertunjukan itu sendiri digelar satu hari satu malam dengan dua materi: Siang hari untuk Tari Topeng, serta Malam hari untuk Wayang Kulit. Oleh karena itu, dalang memiliki dua profesi siang hari sebagai penari topeng, malam hari sebagai dalang wayang kulit. Namun, seiring perkembangannya dan makin banyak masyarakat tertarik kepada tari topeng, maka dalang tari topeng juga diperankan oleh perempuan, bahkan belakangan perempuan lebih banyak menjadi penari topeng. Pada zaman dahulu tempat pagelaran tari topeng biasanya di tempat terbuka berbentuk setengah lingkaran, misalnya di halaman rumah, di blandongan atau di bale  desa dengan obor sebagai alat penerangan. Namun sekarang sudah mengalami perubahan, tari topeng bisa dipertunjukkan di gedung dengan lampu listrik sebagai tata cahayanya. 

Pelaksanaan tari topeng dilakukan dengan beberapa bentuk sesuai dengan tujuan dari masing-masing pertunjukkan  tersebut, misalnya: Pagelaran Komunal, merupakan acara pagelaran yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat, sehingga seluruh masyarakat di tempat itu berpartsisipasi dalam pagelaran ini, acara yang dipertunjukkan sangat spektakuler dengan adanya arak-arakan dalang, atraksi seni dan lainnya dan digelar lebih dari satu malam, misalnya acara hajatan desa atau acara kepemudaan.  Pagelaran Individual: merupakan acara pagelaran yang diperuntukkan untuk memeriahkan hajatan seseorang, misalnya acara pernikahan, sunatan, kahulan atau melaksanakan nazar, dan pagelaran barengan: merupakan acara pegelaran kelilng kampung yang inisiatifnya datang dari dalang topeng itu sendiri.

Berdasarkan jenisnya, pada dasarnya topeng Cirebon dapat ditarikan atau dibawakan oleh beberapa orang, tetapi intinya adalah pertunjukan tunggal, dimana dalang (penari) topeng mengenakan beberapa kedok (topeng) bergantian. Sebagai sebuah pertunjukan teatrikal, topeng sukar dikelompokan. Akan tetapi, berdasarkan cerita Indonesia asli tentang panji, topeng bukanlah suatu tarian drama, tapi juga bukan suatu kesenian abstrak karena terdapat karakter- karakter berbeda yang bisa ditampilkan. Tari topeng Cirebon dapat digolongkan kepada lima karakter pokok yang berbeda yaitu:

Topeng Panji. 

Panji adalah tarian awal dengan mengenakan kedok berwarna putih. Digambarkan sebagai sosok manusia yang baru lahir, penuh dengan kesucian, gerakannya halus dan lembut. Tarian ini bagi beberapa pengamat tarian merupakan gabungan dari hakiki gerak dan hakiki diam dalam sebuah filosofi tarian. Iringan musiknya riuh rendah dan berirama cepat. Gerakannya nyaris tak pernah mengangkat kaki, hanya tangan yang nampak bergerak perlahan- lahan.

Topeng Samba,  atau disebut juga pamindo, artinya mindo atau mindua. Tarian ini menggunakan kedok berwarna putih. Tarian ini menggambarkan fase ketika manusia mulai memasuki dunia kanak- kanak, digambarkan dengan gerakan yang luwes, lincah dan lucu, suka tertawa dan bermain-main.

Topeng Rumyang. 

Karakter ketiga dengan kedoknya berw arna merah muda sebagai gambaran dari fase kehidupan remaja pada masa akil balig. Watak yang digambarkan periang, ganjen (genit). Dalam tarian rumyang sesekali penari bodor dapat memotong tarian. Dengan gaya humornya ia melontarkan kritikan, dan ketika  dalang  topeng menantangnya untuk menari yang lebih bagus, dengan seenaknya bodor mengenakan topeng yang salah dan memparodikan tariannya.

Topeng Tumenggung,  menggunakan kedok berwarna merah gelap kecoklat-coklatan, dengan hidung

panjang mata bulat dan gerak tariannya kuat dan tegas. Tarian ini menggambarkan kepribadian bertanggungjawab, rasional dan dewasa, gambaran kedewasaan seorang manusia, penuh dengan kebijaksanaan layaknya sosok prajurit yang tegas, penuh dedikasi, dan loyalitas seperti pahlawan. Tarian ini satu-satunya karakter yang mempunyai cerita/lakon yaitu seorang panglima kepercayaan raja yang diutus untuk menghentikan pemberontakan Jinggananom. Oleh karena itu adegan tumenggung selalu diiringi perang dengan Jinggananom yang mengenakan kedok bodor, lucu.

Topeng kelana/ Rahwana  merupakan visualisasi dari watak manusia yang serakah, penuh amarah, dan

ambisi. Sifat inilah yang merupakan sisi lain dari diri manusia, sisi gelap, yang pasti ada dalam diri manusia. Gerakan topeng kelana begitu tegas, penuh dengan ambisi layaknya sosok raja yang haus ambisi duniawi. Warna kedoknya berwarna merah. Menggambarkan sikap angkara murka, tamak, tidak dapat mengendalikan diri. Tarian ini merupakan tarian yang paling popular dari topeng lainnya, dimana dalang yang menarik sering mendapat saweran dari penontonnya (Hayuning, 2015).

Kelima karakter topeng di atas dapat dikaitkan dengan pendekatan ajaran agama Islam melalui penjelasan sebagai berikut:

Topeng Panji merupakan akronim dari kata Mapan ning kang siji, artinya tetap kepada satu yang Esa atau dengan kata lain Tiada Tuhan Selain Allah SWT .

Topeng Samba berasal dari kata Sambang atau saran yang artinya tetap setia. Maknanya bahwa setiap waktu kita diwajibkan mengerjakan perintah-Nya.

Topeng Rumyang. Berasal dari kata Arum/ harum dan Y ang / Hyang (Tuhan). Maknanya bahwa kita senantiasa mengharumkan nama Tuhan yaitu dengan do a dan dzikir.

Topeng Tumenggung. Memberikan kebaikan kepada sesama manusia saling menghormati, dan senantiasa mengembangkan silih asah, asih dan asuh.

Topeng Kelana artinya kembara atau mencari. Bahwa dalam hidup ini manusia wajib berikhtiar.

 

Sumber : Nurhidayah, Y. (2017). Revitalisasi Kesenian Tari Topeng sebagai Media Dakwah. Ilmu Dakwah:

Academic Journal for Homiletic Studies, 11(1), 21-52.

 Damar Alwandaru Sunjaya

Komentar