Diperbolehkan Untuk Berbuka Atau Tetap Berpuasa Ketika Safar

 عَنْ أنَس بْنِ مَالِكٍ رضي الله عَنْهُ قال:
 كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فَلَمْ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى المُفطِرِ، وَلا الْمُفطِرُ
 عَلَى الصًائِمِ.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu , dia berkata “ kami bepergian bersama Rasulullah – shalallahu ‘alaihi wasalam- maka orang-orang yang berpuasa tidak mencela orang-orang yang tidak puasa dan orang yang tidak puasa tidak mencela orang yang berpuasa (muttafaqun ‘alaihi)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits : 
1. Para sahabat pernah safar bersama Rasulullah di bulan Ramadhan , sebagian mereka ada yang berpuasa dan sebagian mereka ada yang tidak berpuasa, dan nabi mendiamkan hal yang demikian itu karena hukum asalnya adalah wajib berpuasa sedangkan tidak berpuasa itu adalah rukshoh ( keringanan ) . 
2. Orang yang mengambil keringanan ( ruksoh ) tidak boleh diingkari, karena itu mereka tidak saling mencela, antara yang berpuasa dan tidak . 
3. Bolehnya tidak berpuasa ketika safar .
4. Diamnya Nabi pada perbuatan sahabat yang berpuasa atau yang tidak berpuasa ketika bepergian menunjukkan bolehnya kedua hal tersebut dilakukan.

Tema hadits yang berkaitan dengan Al Qur'an :
1. Allah ta'ala berfirman sehubungan dengan orang yang sedang bersafar atau dalam perjalanan :

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ ۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"(yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (Surah Al-Baqarah ayat 184)

2. Firman Allah ta'ala lainnya :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur." (Surah Al-Baqarah ayat 185)

​​​

Komentar