Urgensi Tawakal Menurut Kiai Soleh Darat

“Maka apabila kamu membulatkan tekad, maka tawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal”(QS. Ali Imran : 159)

Salah satu adab seorang mukmin dalam menggapai cita-citanya adalah memasrahkan urusannya kepada Allah, sebelum usaha, saat usaha, maupun pasrah tentang hasil usaha tersebut, yang dikenal dengan tawakkal. Manusia hanyalah memiliki bagian untuk berusaha, ikhtiar, bukan mengatur. Allah-lah yang Maha Mengatur segala urusan manusia. Oleh karenanya, hati manusia hendaknya bertawakkal kepada Allah.

Dalam kitab Hadzâ al-Kitâb Matn al-Hikam li Sayyidî al-Syaikh Ahmad ibn ‘Athâ’ Allâh al-Sakandarî, Tarjamah bi Lisân al-Jâwî al-Mrîkî, Kiai Sholeh Darat menjelaskan, setidaknya ada 10 sebab, mengapa manusia harus pasrah kepada Allah dan mengistirahatkan dirinya dari hal-hal yang belum terjadi dengan nafsu, syahwat, dan ikhtiar.

Manusia harus faham, bahwa Allah telah merencanakan segala sesuatunya sebelum manusia terwujud. Manusia hanya menyempurnakan ikhtiar.

Ketika manusia mengatur dirinya, maka hal itu menunjukkan kebodohannya tentang kebaikan Allah yang selalu diberikan kepada semua makhuk-Nya. Dengan memasrahkan segala urusan kepada Allah, maka Allahlah yang akan mencukupi kebutuhannya.

Taqdir (ketetapan) Allah tidak akan berlaku pada tadbîr (pengaturan manusia). Banyak kejadian-kejadian yang dialami manusia di luar rencananya.

Allahlah Dzat yang memerintah seluruh kerajaan langit tujuh, tujuh bumi, ‘arasy, dan kursi, dengan kekuasaan penuh. Manusia sangat kecil di hadapan Allah, yang sangat Kuasa atas segala sesuatu. Semua akan tunduk dan patuh terhadap perintah Allah, dan pasrah dengan pengaturan Allah. Maka mohonlah segala kebaikan dari-Nya.

Badan manusia adalah milik Allah semata. Buktinya, manusia tidak bisa membuat dan menjamin badannya sehat, apalagi hidup selamanya. Karena bukan milik manusia, maka manusia tidak berhak untuk mengatur, memerintahkan dan mengatur dirinya.

Manusia hidup di dunia bagaikan tamu yang hanya sekedar mampir bertamu di desanya Allah dan bertamu kepada Allah. Seorang tamu pasti akan dijamu dan dijamin oleh pemilik rumah. Sehingga yang bertamu tidak usah pusing berfikir tentang kecukupan hidupnya. Sebagaimana diketahui, kata Rasul, toleransi seseorang untuk bertamu dan mendapat fasilitas dari tuan rumah adalah 3 hari. Padahal 1 hari bagi Allah adalah sama dengan 1.000 tahun. Dan 1.000 tahun x 3 = 3.000 tahun. Sedangkan umur manusia tidak ada 3.000 tahun. Sehingga manusia hendaknya tidak perlu terlalu mengatur atau menentukan dirinya. Ketika tamu mengikuti aturan pemilik rumah, maka pemilik rumah akan memuliakan tamunya.

Manusia hendaknya sadar bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Hidup dan Maha berdiri dengan sendirinya, yang menguasai semua makhluk-Nya. Allah yang menanggung dunia dan akhirat serta seisinya. Allah yang memberi pahala dan pembalasan. Karena itu, manusia hendaklah pasrah kepada-Nya.

Manusia hendaknya sibuk dengan beribadah kepada Allah hingga mati menjemputnya. Sebagaimana dikatakan oleh Allah, beribadahlah kamu kepada Tuhanmu hingga datang keyakinan kepadamu. Ketika manusia sibuk dengan urusan ibadah, maka ia tidak akan mengangan-angan untuk mengatur dirinya.

Manusia harus sadar, bahwa ia adalah seorang hamba Allah. Dan diantara hak seorang hamba adalah tidak boleh ikut campur urusan Allah, Sang Pencipta. Karena kewajiban manusia hanyalah menjalankan perintah-Nya, seperti menjalankan perintah shalat.

Suatu ketika manusia melihat dan menyangka terhadap sesuatu itu akan bermanfaat, tapi ternyata justru menimbulkan madlarat, atau sebaliknya. Maka hendaknya manusia tidak usah mengatur dirinya. Meninggalkan pilihan diri sendiri dan menerima pengaturan Allah adalah ibadah yang lebih utama.

 

*Dr. H. M. In'amuzzahidin, MA.

(Dosen Pascasarjana dan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo, Pengasuh Pengajian KOPISODA (Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat), Pengurus MUI Jateng/ Pengurus PCNU Kota Semarang)

Komentar