25 syair-syair Jalaluddin Rumi ; Matahari Diwan Syams Tabrizi

Beliau adalah seorang lelaki bernama Muhammad, dan mendapat julukan Jalaluddin. Murid-murid dan para sahabatnya memanggil beliau dengan panggilan Maulana (Tuanku) yang searti dengan kata Khawaja dalam bahasa Persia, sebuah penghargaan maknawi dan sosial. Kata maulana sendiri adalah terjemahan dari bahasa Persia Khadawanda kar, yang mana julukan ini pertama kali diberikan oleh ayahnya. Dalam literature Persia modern, dia terkenal dengan sebutan Mavlevi.

Maulana  Rumi lahir di kota Bakhla, salah satu kota  di daerah khurasan, pada 6 Robi’ul Awal 604 H atau 30 September 1207 M. Nama asli ayah beliau adalah Bahauddin Muhammad, tetapi nama yang lebih masyhur adalah Baha’ Walad. Beliau adalah seorang pakar fiqih yang agung, pemberi fatwa, sekaligus salah satu guru tarekat al-Kubrawiyah (pengikut Najmuddin al-Kubra), yang mendapat julukan Sultan al-Ulama (pembesar para Ulama). Dalam salah satu riwayat dikatakan bahwa julukan itu diberikan langsung oleh Nabi Muhammad Saw. melali mimpi. Sebagian riwayat menyataakan bahwa nasab Baha’ Walad dari jalur ayah bersambung kepada Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq, sementara dari jalur ibu memiliki ikatan darah dengan raja-raja Khawarizmi.

Dalam syair-syair Jalaluddin Rumi selalu menyampaikan bahwa Tuhan adalah sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada menyamainya. Maka tek heran apabila sampai sekarang karya-karyanya dan pemikiran baliau menginspirasi banyak orang. Berikut ini 25 diantara syair-syair Jalaluddin Rumi yang di kutip dari kitab Matahari Diwan Syams Tabrizi.

Terpujilah Cinta, terpujilah Cinta, karena Cinta itu istimewa. Karena cinta itu lembut, indah, dan tanpa bahaya. Hasrat apa, hasrat apakah, kita terbakar seperti mentari. Ia tersembunyi dan asing, ia adalah tanda yang nyata.

Malam adalah pot kosong, hitam dan penuh penyesalan. Jika kelezatan-kelezatan tak pernah kita rasakan.

Setiap tarikan napas adalah lagu cinta yang mewakili kita dari kiri dan kanan. Kita akan kembali ke dunia di atas sana. Takdir semacam itu siapapun tak bisa elakkan.

Kita telah datang dari petala-petala langit Berteman dengan para malaikat di dalam surge Ke tempat yang sama kita akan bangkit Ke kota lampau itu tujuh surga berada.

Manusia-manusia seperti burung penyelam. Dilahirkan dari samudra jiwa Tetaplah mengambang berbulan-bulan Di samudra yang dikontrol olehnya.

Apa yang tampak buruk, adalah nikmat. Kkebaikan hati ada dalam amuk gelombang Fajar pengabulan di sanalah bertempat Memberi cahaya jalan istimewa terbentang.

Ejeklah perempuan tua yang ergi tanpa pendamping Menangislah untuk pria yang kesepian, yang penciptanya telah Dia tinggalkan.

Ketika aku gembira, aku bisa pergi tidur. Tetapi aku pergi berjalan-jalan ketika aku sedih Dan air mataku mengucur.

Dimana sang kekasih ada, disitulah tempat sempurna, Baik itu di dasar sumur, atau di angkasa di atas sana.

Ketika tuhan menyapu seluruh ketamakanmu Kembalilah pada jiwamu, satu-satunya pembimbing yang kau butuhkan.

Dala cahaya ilahi, onggokan debu menari dengan gembira, tanpa kebutuhan ataupun birahi.

0 hati yang patah jangan tempuh jalan ini tetaplah pada ranjang kelembutan sendiri. Carilah apa yang membangkitkan jiwa mintalah anggur yang pada kepalamu memberi cahaya.

Apapun selain cinta sepanjang jalan ini adalah pemberhalaan. Yang lain selain cahaya penyatuanmu adalah kotbah yang meragukan.

Jiwa para pecinta ditenun dari lempung jantan dan bendawi. Pengikut jalan cinta tak pernah kuatir atas hal-hal duniawi.

Pemisahan dari pasangan tidaklah bijaksana, menempuh jalan tanpa disertai cahaya tidaklah bijaksana. Jika takhta dan hantu bagimu barang berharga Turun dari pangeran menjadi si fakir tidaklah bijaksana.

Katakana padaku, apakah gula itu lebih manis, atau dia yang membuat tebu? Keindahan rembulan apakah lebih elok atau dia yang membuatnya sidi dan mati?

Tinggalkan rembulan di belakang sana, keluarkan gula dari dalam pikiranmu segera, Pada-Nya yang lain kau akan temukan Dia membuat jenis butir  yang lain.

Air mataku telah menjadi sungai mengalir di samudra ini, Mutiara itu kemana pergi? Meskipun bersama yang lain, sungguh adalah milik kita. Dari kita telah pergi, kemana? Ke mana pergi?

Mereka yang berziarah ke Mekah ketika mencapai tempat yang dituju melihat sebuah rumah yang dibangun dari sebuah batu di tengah palagan pedagang pasir. Di rumah itu mereka mencari Tuhan tetapi mereka temukan kurungan itu kosong.

Para bajingan hanya memuja di depan wajahmu, dibelakangmu mereka berbicara tentang kegilaanmu. Terbuka seperti bunga-bunga menakjubkan tetapi memiliki duri-duri menanti dalam kegelapan.

Jika kau ingin melihat kekasih gosoklah cermin itu, tataplah kedalamnya dalam kesejatian-kesejatian ini rahasia-rahasia yang berjalin adalah hukuman-hukumanmu, dirimu sendiri akan menerimanya.

Jangan percayai seseorang yang berganti dari cinta menjadi benci, Rahasia-rahasia hatimu bersama ereka tak akan tunjukkan diri.

Pergilah dan mati, pergilah dan mati Demi cinta ini pergilah dan mati, ketika dalam cinta ini kau mati akan kau berikan ruh-ruhmu terbang pergi.

 Pergilah dan mati, pergilah dan mati, Jangan takut akan kematian, jangan malu hati ketika kau terbaring dalam debu ini Ruhmu akan membumbung tinggi.

Pergilah dan mati, pergilah dan mati, biarkanlah lewati eksistensi ini. Eksistensi ini adalah ikatanmu dan memenjarakan engkau dan aku.

Pergilah dan mati, pergilah dan mati, Raja yang tampan pun puas hati Demi Tuhan ketika kau mati Kejayaanmu berlipat ganda nanti.

Rumi, Jalaluddin. (2016). Fihi Ma Fihi : Mengarungi Samudera Kebijaksanaan.Yogyakarta : FORUM, 978-602-310-003-3.

Rumi, Jalaluddin. (2018). Matahari Diwan Syams Tabrizi.Yogyakarta : FORUM, 978-602-50245-6-6.

Rosikhan Anwar/ Redaktur Elmihrab

Komentar