Makna Zuhud Dalam Kitab Minhajul Atqiya'

Zuhud, secara bahasa berarti tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya, meninggalkan kesenangan dunia, untuk ibadah dan kehidupan akhirat. Pelakunya disebut zâhid, yang mempunyai bentuk jamak zuhhâd atau zâhidûn.

 Secara istilah, zuhud adalah berpaling dari kehidupan dunia dan mengfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah, melatih dan mendidik jiwa, dan memerangi kesenangan dengan semedi (khalwat), berkelana, puasa, mengurangi makan dan memperbanyak dzikir.

Dalam kitab Minhâj al-Atqiyâ’ ila Ma‘rifat Hidâyat al-Adzkiyâ’ ilâ Tharîq al-Awliyâ’, kitab terjemahan sekaligus syarah atau penjelasan dari kitab matan nazham Hidâyat al-Adzkiyâ’ ilâ tharîq al-Awliyâ’, karya Syaikh al-‘Allamah Zayn al-Dîn ibn ‘Alî ibn Ahmad al-Malyabârî (W. 928 H). Zayn al-Dîn ibn ‘Alî al-Malyabârî adalah kakek dari pengarang kitab Fath al-Mu‘în bernama Zain al-Din ‘Abd al-‘Azîz ibn Zain al-Dîn ibn ‘Alî, Kiai Shâlih Darat (W. 1312 H/ 1903 M)  menjelaskan zuhud dengan membenci dunia dalam hati. Karena dengan mencintai dunia, akan membuat hati sedih dan susah. Namun bukan berarti, zuhud berarti sama sekali tidak memiliki harta. Hakekat makna zuhud adalah tidak bergantungnya hati pada dunia. Seperti nabi Sulaiman as., ‘Utsman ibn ‘affan dan ‘Abd al-Rahaman ibn ‘Auf. Mereka kaya, tetapi zahid. Akan tetapi. Kesederahanaan dan kezuhudan Nabi Muhammad saw. bukan berarti beliau miskin dan fakir. Karena gunung uhud pernah ditawarkan kepadanya untuk dijadikan emas.

Dan tanda-tanda zuhud adalah mengakhirkan kepentingan diri sendiri dan mendahulukan kepentingan kaum muslimin, serta dermawan.

Atau dengan kata lain, zuhud artinya tidak menjadikan harta sebagai ma’bud, yang disembah. Karena perintah untuk melaksanakan infaq, shadaqah, zakat dan dan ibadah haji, juga harus menggunakan harta.

Orang yang zuhud, andaikata mendapatkan harta banyak, atau jabatan, tentu akan berfikir ulang, apakah harta dan jabatan itu akan menduakan fi mahabbat Allah atau tidak, apakah hatinya akan lebih cinta dunia atau Allah. Kalau dunia akan memalingkan dari Allah, maka ia akan meninggalkannya, meskipun ia dapat memperoleh dunia itu.

Menurut Kiai Shâlih Darat, tugas seorang mukmin adalah cinta Allah dan Rasul-Nya. Harta dunia sebagai sarana dawam al-mahabbah (langgengnya cinta) dan dawam al-‘ibadah (langgengnya ibadah), bukan tujuan akhir.

Kiai Saleh Darat juga menjelaskan, amal yang keluar dari hati orang yang tidak suka dunia atau zuhud itu lebih agung meskipun sedikit secara lahiriah. Karena amal orang yang zuhud selamat dari riyâ’ atau pamrih karena manusia, selamat dari tujuan duniawi, dan selamat dari berpaling dari selain Allah. Berbeda dengan amal yang keluar dari hati orang yang mencintai dunia. Amalnya menjadi sedikit, meskipun banyak secara lahiriah. Karena amal orang yang suka dunia, tidak selamat dari riyâ’ atau pamrih karena manusia, berorientasi duniawi, dan berpaling kepada selain Allah.

Ibn ‘Ajîbah menjelaskan zuhud dalam suatu urusan adalah mengeluarkan rasa cinta kepadanya dari hati dan membiarkannya. Sebagian ulama’ mengatakan bahwa zuhud adalah membenci segala sesuatu yang melalaikan dzikir kepada Allah dan menghalangi ke hadirat-Nya. Zuhud itu sendiri ada yang berkaitan dengan harta, kedudukan dan kehormatan, dan maqâm. Pertama, zuhud berkaitan dengan harta. Tandanya adalah seseorang meyakini bahwa emas atau tanah, perak atau batu, kaya atau miskin, tidak diberi atau diberi, adalah sama. Kedua, zuhud yang berkaitan dengan kedudukan atau kehormatan. Tandanya adalah seseorang memandang sama antara keagungan dan kehinaan, tenar dan tidak tenar, pujian atau celaan, naik pangkat atau terdepak. Ketiga, zuhud yang berkaitan dengan maqâm, karâmah dan khushûshiyyât (keistimewaan). Tandanya adalah dia memandang sama antara rajâ’ dan khawf, kuat dan lemah, lapang dan sumpek, dia menghadapi suatu hal sama seperti ketika menghadapi hal lain yang berbeda. Selanjutnya, zuhud berkaitan dengan seluruh alam dengan cara menyaksikan Sang Pencipta alam.

Jika seorang murîd telah merealisasikan semua tingkatan zuhud ini atau sebagian besarnya, maka semua amalnya menjadi mulia dan besar secara maknawi menurut Allah, walaupun menurut manusia nampak sedikit.

Dr. H. M. In'amuzzahidin, MA.

(Dosen Pascasarjana dan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo, Pengasuh Pengajian KOPISODA (Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat), Pengurus MUI Jateng/ Pengurus PCNU Kota Semarang)

Komentar