Koreksi Sistematika Dalam Berda'wah

Sejatinya profesi dakwah adalah kewajiban yang bersifat kifayah, dengan artian ketika sebagian ummat melaksakan kewajiban tersebut, maka gugurlah tuntutan tersebut bagi sebagian ummat lainnya. Itulah yang dipaparkan oleh beberapa ulama. Akan tetapi tidak menurut As-Syekh Romadhan Albhutiy, yang berpendapat di dalam kitabnya yang berjudul "Hakadza Falnad'u Ila Al-Islam", bahwa profesi dakwah sudah berubah haluan dalam segi kewajibannya, dari sifat kifayah menjadi sifat 'ayin (per-individu), dengan artian kewajiban tersebut sudah menjadi keharusan bagi semua ummat muslim secara individu. Hal itu dikarenakan banyaknya motif yang menggiring kenyataan dalam dunia Islam yang menghantarkan pada pernyataan bahwa dakwah tak lagi menjadi gerakan sebagian ummat Islam. Barangkali diantara motif terbesarnya adalah serangan yang mengarah pada jantung Islam dari berbagai penjuru dan dengan berbagai cara.

Seperti yang kita ketahui bahwa hampir semua aspek yang memiliki celah untuk merobohkan kekuatan spiritual Umat Islam dijadikan senjata oleh para musuh. Mulai dari ekonomi yang bercabang pada ketahanan keuangan, politik yang menyelinap pada kekuasaan, media yang menggunakan wanita sebagai godaan, serta ideologi yang menjurus untuk mendistorsi pemikiran umat, semua itu digunakan untuk menghentikan laju pertumbuhan Agama Islam serta menghalangi pemeluknya untuk wushul menggapai ridho Tuhannya. Sebab itulah alasan mengapa profesi dakwah menjadi kewajiban bagi setiap individu muslim, tanpa melihat bidang yang mereka jalani dan kerjakan.

Dakwah di jalan Allah swt adalah hal yang harus senantiasa digerakkan dalam kehidupan umat muslim. Bobot perkara dakwahpun sangatlah tidak sepele untuk diabaikan. Karena dakwah Islamiyah bukanlah semata-mata mengajak ummat ke suatu golongan atau pemikiran tertentu, akan tetapi lebih dari itu semua bahwa dakwah bertujuan untuk menatar karakter tiap pribadi menjadi seperti yang diharapkan dalam syari'at agama. Oleh karena itu dibutuhkan spirit yang ekstra, tingkat kefokusan dan ketelitian yang lebih, supaya usaha tersebut tidak melenceng dari kurikulum dakwah Nabi Muhammad SAW, dan juga agar tidak berdampak buruk bagi masyarakat yang menerima dakwah tersebut.

Alangkah banyaknya jumlah pendakwah pada zaman ini, akan tetapi dekadensi moral ummat kian hari menjurus ke grafik pertambahan. Akibatnya kerusakan mencuat hingga banyak dampak buruk yang menimpa ummat dan negara. Oleh karena itu sudah seharusnya bagi seorang da'i untuk mengnintrospeksi caranya dalam berdakwah, membaca kembali apa-apa yang ternyata tidak sesuai dengan ajaran Kanjeng Nabi SAW.

Doktor Syekh Romadhan Al Butiy menyebutkan beberapa syarat aksioma yang harus dimiliki seorang yang berdakwah di jalan Allah :

I. Terbentuknya Islam dan Iman yang kuat dalam diri seorang pendakwah.

Karena sorang muslim yang tidak taat akan ajaran Islam, atau ia taat akan tetapi ketaatannya itu tidak mendorong dia untuk menggapai ridho Allah SWT, maka orang tersebut apabila mengemban profesi dakwah akan melencengkan makna hakiki dari dakwah tersebut. Jalan yang ia tempuh dalam berdakwah akan merusak masyarakat bahkan ummat secara umumnya. Sebagaimana pepatah mengatakan "orang yang tidak memiliki, tidak akan bisa memberi".

Sesungguhnya motif yang mendorong seorang da’i untuk berdakwah di jalan Allah adalah motif yang mendorong dirinya sendiri untuk menggapai ridho Allah dan RasulNya, serta ikhlas menjalankan syariatNya. Dari hal inilah akan timbul keserasian diantara keduanya (membenahi diri sendiri dan dakwah). Karena keduanya timbul dari asas yang sama dan maksud yang sama, yaitu menggapai ridho Allah dan RasulNya. Maka satu sama lain tidak bisa dipisahkan dan tidak dapat berjalan kecuali keduanya setara dan bergabung.

Apabila kita dapati ada seorang yang giat berdakwah akan tetapi dirinya masih kurang dalam mentaati ajaran syariat, maka ketahuilah orang tersebut mendapatkan motif dakwahnya bukan seperti yang dikatakan tadi, yaitu menggapai ridho Allah dan RasulNya. Alangkah perlunya bagi pendakwah untuk mengoreksi motif apa yang menjadi landasannya berdakwah.

Oleh karena itu syarat pertama yang harus dipenuhi da'i adalah, memperbaiki hubungannya kepada Allah dan RasulNya, menghilangkan segala penyakit hati yang bisa merusak jalannya, dan inilah yang disebut dengan ilmu tasawuf, ilmu pembersihan hati dari sifat-sifat keji, yang telah diisyaratkan Nabi Muhammad SAW di dalam hadisnya, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori di dalam Kitab Sahihnya :

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ.

"Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati".

II. Hendaklah mensyiarkan dakwah dan memulainya di barisan kaum muslimin terlebih dahulu. Sehingga mereka berada di koridor yang lurus yang diridhoi Allah dan RasulNya, serta norma-norma Islam yang sesungguhnya, menjelma dalam keseharian mereka. Dengan hal tersebut maka akan terpancar hal positif dan menarik agama lain agar tertarik dengan ajaran Islam yang agung. Hal semacam inilah yang menjadi faktor terbesar untuk dakwah ke jalan Allah SWT.

Ada pula beberapa teori atau keyakinan yang harus dijalani dan diyakini oleh seorang da'i, diantaranya :

a. Menjadikan dakwah ke jalan Allah SWT sebagai ibadah untuk menggapai ridhoNya dan menjalaninya sesuai jalan yang ditentukan syariat.

b. Motif yang timbul dalam diri seorang dai harus seraya berdampingan dengan rasa kasih sayang dan lembut dalam profesi dakwahnya, serta selalu memandang manusia dengan pandangan cinta agar mereka berjalan dengan ajaran yang lurus hingga menggapi ridhoNya. Sebagaimana hal ini tercerminkan dalam keseharian baginda Nabi Muhammad SAW.

c. Agarlah seorang da'i mengetahui dan meyakini bahwasanya amanat yang ia emban adalah perintah dari Sang Pencipta alam, serta menyerahkan hasilnya kepadaNya, karena hidayah hanyalah milik Allah semata, dakwah hanyalah wasilah yang Allah swt perintahkan bagi para kholifahNya di muka bumi ini.

Tiga teori atau keyakinan diatas adalah pilar-pilar terpenting dalam profesi dakwah ke jalan Allah swt. Karena seorang da'i tidaklah mengajak orang lain kepada kebaikan atas dasar dirinya, akan tetapi mengajaknya atas dasar perintah Allah swt dan untuk bersama-sama menggapai ridhoNya, sehingga iapun selalu menjalaninya dengan rasa kasih sayang dan senantia menginginkan kebaikan bagi Ummat Islam khususnya dan ummat manusia pada umumnya.

Mudah-mudahan kita selalu dinaungi taufiq dan hidayahNya dalam menjalani semua perintahNya dan menjauhi laranganNya, serta menjadikan ajakan kita sesuai apa yang diajarakan oleh Nabi besar Muhammad saw.

 

Habib Mustofa Al Muhdor

Komentar