Ketika Sahabat Abu Bakar Tidak Dibela oleh Rasulullah

elmihrab.com – Alkisah, suatu saat ada seseorang yang datang di Majlis Rasulillah saw, dan tanpa ada suatu sabab, orang tersebut mencaci maki habis-habisan sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq di hadapan Rasulillah SAW. Sayyidina Abu Bakar diam dan tidak merespon makian tersebut. Namun, karena bertubi-tubinya cacian itu, Sayyidina Abu Bakar tak mampu menahan diri dan hampir melempar balik cacian itu kepada orang tersebut. Kemudian pada saat itulah, Rasulillah saw berdiri dan menarik tubuh Abu Bakar (agar menghentikan langkahnya).

Dengan nada yang menyimpan amarah, Abu Bakar bertanya kepada Rasulillah saw, “Wahai Rasulillah, ia mencaci maki aku di hadapanmu dan engkau mendiamkan saja, namun ketika aku hendak mencaci makinya sekali saja, engkau marah dan berdiri menarik diriku? Rasul menjawab: Wahai Abu Bakar, ketahuilah tatkala ia mencelamu (dan kamu mendiamkan), maka sesungguhnya malaikatlah yang membalas celaan itu, namun tatkala kamu hendak membalas sendiri celaan itu, maka pergilah malaikat dan datanglah setan untuk membantumu, dan aku tak sudi duduk bersama dengan para setan itu.

Kisah ini tersimpan apik dalam riwayat Abu Dawud dan Imam Ahmad bin Hanbal dari sahabat Abu Hurairah r.a. Kemudian, apa yang hendak kita pelajari dari kisah tersebut. Apa yang dialami oleh Sayyidina Abu Bakar ini setidaknya memberikan nasehat kepada kita untuk selalu berhati-hati, setidaknya dalam dua hal.

Pertama, selalu berharap dapat menjaga lisan kita agar terjauhkan diri dari ucapan yang tak pantas diucapkan oleh seorang muslim, seperti apa yang dilontarkan oleh orang tersebut kepada Abu Bakar. Oleh karenanya, Rasul saw dalam sunnahnya menyuruh kita untuk selalu dapat menjaga lisan kita. Jika memang tidak bisa berkata baik dengan cara yang baik, maka diam adalah cara yang baik. Karena, setiap apa yang diucapkan oleh manusia sejatinya selalu dalam pengawasan Allah dan mengandung pertanggung jawaban, bukan hanya di dunia melainkan di akhirat pula. Inilah relevansi akan pentingnya kesadaran diri dan akal sehat bagi manusia, agar ia selalu berpikir dahulu sebelum berkata maupun bertindak.

ما يلفِظ من قولٍ إلا لديه رقيبٌ عتيد

“Tak ada satu pun lafadz/kalimat yang terucap melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Q.S. Qaf: 18)

Selain nasehat untuk menjaga lisan, kisah ini juga memberikan pelajaran bagi kita, bahwa bersabar untuk tidak mudah marah adalah satu hal yang sangat penting dalam perilaku keberagamaan kita. Oleh karena itulah, mengapa Rasulullah mengulang-ulang kalimat la tagdhab selama beberapi kali dalam hadisnya. Intinya bahwa menahan amarah merupakan sikap seorang mukmin yang baik dan salih, bahkan Allah dalam al-Quran memasukkan sifat menahan amarah ini sebagai salah satu sifat bagi seorang mukmin yang bertaqwa (Q.S. Ali Imran: 134)

Saat sekarang ini, kisah sebagaimana yang dialami oleh Abu Bakar di atas, sadar dan tidak sadar senantiasa terulang Kembali. Saat ini, orang dengan mudah sekali mencela dan mencaci maki yang lain tanpa sadar risiko dari apa yang mereka lakukan, dan di sisi yang lain, orang dengan mudah tersulut oleh api emosi dan amarah dari apa yang belum tentu mereka pahami pangkal asalnya.

Maka dari itu, bersikap hati-hati dalam segala hal saat ini mutlak diperlukan. Lisan yang saat ini telah mewujud dalam bentuk media komunikasi yang beragam, harus selalu kita sikapi dengan bijaksana. Bagi para tokoh dan pemimpin bijaklah dalam membimbing umat dan janganlah memberikan hal-hal yang dapat menjadikan masyarakat gusar dan tak terkontrol. Bagi masyarakat seperti kita, marilah selalu bertabayun atas segala hal yang muncul dan beredar, agar kita tidak mudah terpancing amarah hingga lisan kita dapat terjaga dari kata yang tak pantas diucapkan oleh orang yang beriman.

Saat ini, kita membutuhkan keteladanan sebagaimana Kanjeng Rasul ketika menahan amarah sayyidina Abu Bakar. Sat ini, kita membutuhkan pengayom yang dapat memberikan kesejukan dalam berinteraksi, sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama dan para kyai sepuh kita. dan kita adalah saudara sesame muslim dan saudara sesame bangsa, meski terkadang kita berbeda dalam beberapa hal.

Imam Ibnu Hazm al-Andalusi pernah berkata: “banyak yang kita saksikan bahwa orang dapat terjatuh karena ihwal ucapannya, dan kita belum pernah melihat bahwa orang terjatuh karena sikap diamnya, oleh karena itu, janganlah berbicara kecuali tentang apa yang dapat mendekatkan dirimu kepada Penciptamu, dan jika kamu khawatir menzalimi yang lain (karena ucapanmu), maka diamlah saja

Semoga  bermanfaat, wa Allah A’lam bi al-Shawab

 

*Ahmad Tajuddin Arafat (Dosen Fak. Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang)

Komentar