Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dan Cintanya Untuk Negeri

Kiai Hasyim Asy’ari lahir di lingkungan keluarga dengan latar belakang agama Islam yang kuat. Ayahnya merupakan seorang pendiri pesantren di Jombang, Jawa Timur, sama dengan kakeknya, yang juga pendiri pesantren dan ulama terkenal.

Dengan lingkungan keluarga yang sangat kental oleh ajaran Islam. Hal itu mendidik Kiai Hasyim Asy’ari menjadi seorang anak yang gemar belajar ilmu agama. Ia dikenal cerdas dan rajin belajar. “Sejak kecil sudah terbiasa mengikuti pelajaran agama dari orang tuanya di Pondok Gedang, pondok yang didirikan kakeknya,” dalam buku Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah. Di usia yang masih relatif muda pula, ia sudah bisa mengajarkan teman-teman sebayanya ilmu yang ada di dalam buku-buku agama. Keinginannya untuk terus memperdalam ilmu agama sangat kuat. Ia tidak puas jika hanya belajar dari ayah dan kakeknya. Pada usia 14 tahun, ia mulai berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain untuk menimba ilmu.

Selain aktif mengajar di pesantrennya, Kiai Hasyim juga aktif dengan kegiatan lainnya. Tahun 1925 ia turut serta menyetujui pengiriman utusan ke Arab Saudi, yang dikenal dengan Komite Hijaz Berawal dari komite tersebut, akhirnya diputuskan untuk membentuk jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926. Kiai Hasyim dipilih menjadi pimpinan pengurus besar NU dengan gelar Rais Akbar dan semakin dikenal oleh banyak orang. Ia mulai memasuki dunia politik dalam lingkup nasional.

Bukanlah hal mudah bagi Kiai Hasyim bersama NU untuk menyatukan ulama-ulama yang memiliki sudut pandang berbeda. Menurutnya, perjuangan yang dilakukan sendiri-sendiri hanya akan memberi kesempatan penjajah untuk menghancurkan mereka. Seruan-seruan dari Kiai Hasyim mengenai jihad dan mewaspadai adu domba sesama umat Islam mulai menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah Hindia Belanda. Mereka khawatir seruan Kiai Hasyim bisa mempengaruhi masyarakat untuk menentang pemerintah kolonial.

Kiai Hasyim adalah ulama yang tidak mau berkompromi pada penjajah, baik itu Belanda maupun Jepang. Pada masa penjajahan Belanda, sikapnya yang non kooperatif kerap membuat Belanda kelimpungan. Berbagai cara dilakukan untuk membuat Kiai Hasyim mau tunduk kepada Belanda. Misalnya, Belanda pernah menangkapnya dengan tuduhan pembunuhan. Sebabnya, intel Belanda yang ditugaskan membuat kerusuhan di Pesantren Tebuireng tertangkap dan tewas di hajar massa.

Peristiwa itu dimanfaatkan Belanda untuk menangkap Kiai Hasyim. Namun, karena kepiawaiannya dengan hukum-hukum Belanda, ia mampu menepis semua tuduhan itu dan lolos dari jeratan hukum. Belanda terus berusaha membuat Kiai Hasyim tunduk dengan cara-cara licik dan represif. Pernah juga Belanda mengirim beberapa kompi pasukan untuk memporak-porandakan pesantrennya. Akibatnya, hampir seluruh bangunan pesantren hancur dan banyak kitab-kitab yang terbakar. Pada sekitar tahun 1935, Belanda mengubah taktiknya dengan menawarkan bantuan dan penghargaan dalam bentuk Bintang Perak atas jasanya di bidang pendidikan Islam. Namun, semuanya ditolak Kiai Hasyim.

Tidak putus asa, di tahun 1937, untuk kedua kalinya Kiai Hasyim didekati orang-orang suruhan Belanda dengan kembali memberi iming-iming anugerah bintang jasa. Namun, iming-iming itu lagi-lagi ditolak olehnya. Malahan Belanda dibuat gusar oleh fatwa Kiai Hasyim yang mengatakan bahwa perang melawan Belanda adalah perang suci (jihad).

Fatwa tersebut membuat Belanda kerepotan karena perlawanan gigih masyarakat muncul di mana-mana. Selain itu, Kiai Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji dengan kapal Belanda. Akibatnya, banyak umat muslim yang telah mendaftarkan diri untuk berangkat haji mengurungkan niatnya. Kiprah Kiai Hasyim dalam melawan penjajah tidak berhenti sampai di situ. Pada saat Jepang menjajah Indonesia, ia juga secara terang-terangan menentangnya. Ia merupakan salah satu ulama yang menentang keras perintah seikerei (membungkukkan badan setiap pagi ke arah matahari terbit dengan tujuan menghormati Kaisar Jepang).

Karena penolakannya, ia ditangkap serdadu Jepang dan dijebloskan ke penjara selama beberapa bulan dengan tempat berpindah-pindah. “Dari penjara Jombang, Mojokerto, hingga penjara Bubutan Surabaya, bercampur dengan para tawanan sekutu,” seperti dikutip dari Antologi NU. Jepang menyadari besarnya pengaruh yang dimiliki Kiai Hasyim, lalu memutuskan untuk membebaskan dan memanfaatkannya. Beberapa bulan kemudian, Kiai Hasyim diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama (Shumubu).

Ia menyadari bahwa Jepang ingin memanfaatkannya. Ia mulai menyusun strategi guna memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan memanfaatkan kedudukannya. Ia meminta Jepang yang saat itu tengah gencar membentuk organisasi militer dan semi-militer untuk melatih para santri. Dari situ, Kiai Hasyim menyiapkan para santri untuk ikut terjun ke milisi Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah yang diketuai oleh putranya Abdul Kholik. Laskar-laskar itulah pada waktu perjuangan melawan Belanda di masa revolusi ikut ambil bagian dalam usaha mempertahankan kemerdekaannya.

Sepak terjang Kiai Hasyim terus berlanjut dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Di antara kelebihan lain Kiai Hasyim adalah kemampuannya menyampaikan ajaran Islam dengan semangat nasionalisme dan kebangsaan. Ia mampu membuat jaringan intelektual di seluruh wilayah Nusantara, terutama Pulau Jawa. Kiai Haji Hasyim Asy’ari merupakan salah satu tokoh modernisasi pesantren yang menginginkan bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama. Namun juga bidang-bidang ilmu lain sesuai dengan perkembangan zaman.

Pada 25 Juli 1947/ 7 Ramadan 1366 H, Kiai Hasyim wafat di kediamannya di Jombang. Ia meninggalkan banyak karya dalam bentuk buku dan berjasa mendidik generasi muda untuk meneruskan perjuangannya. Melalu pendidikan nasionalisme dan solidaritas umat yang diajarkan oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Hingga sekarang, banyak dari kalangan santri yang menjadi tokoh nasional, salah satunya adalah cucunya sendiri, Kiai Haji Abdurahman Wahid (Gus Dur). Berkat jasa-jasanya itu, maka Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden (Kepres) No. 294/1964 menetapkan KH. Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai Pahlawan Nasional. Semoga sebagai generasi penerusnya, kita mamou meneruskan keteladanan yang diajarkan oleh Hadratussyekh Kiai Haji Hasyim Asy’ari.

Komentar