Imam yang Perjalanan Hajinya tak Sampai ke Makkah, Namun dicatat Berhaji Setiap Tahunya

Haji adalah salah satu rukun islam dimana bagi mereka yang mempunyai kemampuan secara ekonomi dan fisik wajib untuknya menunaikan ibadah ini sehingga islammya dapat dikatakan sudah memenuhi rukun. Kemampuan ekonomi yang dimaksud adalah mampu untuk membayar administrasi terkait pemberangkatan haji dan kemampuan fisik dimaksudkan bahwa orang tersebut mempunyai kekuatan jasmani untuk menunaikan rukun haji. 

Sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin, islam tidak hadir untuk memberatkan manusia dalam kehidupanya. Bukan berarti bagi semua muslim yang  tidak berhaji rukun islamnya tidak terpenuhi karena prinsip yang di pakai adalah “haji jika mampu”. Bagi mereka yang belum mampu secara ekonomi dan fisik, maka Haji bukan lagi menjadi hal yang wajib.

Merebaknya pandemi covid-19 yang sampai saat ini masih betah di nusantara dan beberapa belahan dunia memberikan dampak terhadap pelaksanaan haji. Masyarakat yang telah lama mendaftar haji terpaksa harus menunda keinginanya dikarenakan pemerintah Saudi Arabia yang belum memperbolehkan jamaah dari luar negerinya khusunya Indonesia. Jelas hal ini memberikan rasa yang sedikit pelik bagi jamaah yang sudah lama menantikan ibadah haji. 

Berlarut-larut dalam kesedihan bukanlah hal yang bagus. Ada sebuah kisah dari seorang ulama yang gagal berangkat haji namun tetap mendapatkan pahala haji karena keikhlasan dan keridhoanya.

Dia adalah ulama yang bernama Abdullah ibnu Al Munkadir yang terkenal alim dan taat beribadah. Ia adalah orang yang sudah pernah haji dikampung tempat tinggalnya sehingga orang kampung yang ingin berhaji belajar dari beliau terkait tata cara dan rukun haji. 

Tibalah musim haji pada tahun itu. Orang-orang dikampungnya berangkat bersama-sama dengan sang Imam Abdullah menggunakan keledai karena dulu belum ada mobil tesla atau mobil pick up yang biasa mengangkut ibu-ibu jamaah tahlil.

Di tengah perjalanan, Imam Abdullah mempersilahkan rombongan untuk berangkat lebih dahulu karena keledai yang ia tumpangi lajunya lambat dari pada keledai yang lain sehingga tidak "enten-entenan" kalau kata orang jawa. 
Rombongan itu pun menaati apa yang d perintahkan oleh sang imam.

Setelah berjalan beberapa lama melewati gurun , Imam Abdullah sampai ke sebuah desa dan dikejutkan dengan adanya seorang wanita paruhbaya yang mencari sesuatu di tumpukan sampah. Wanita itu seperti mencari sebuah barang yang berharga hingga sang Imam mendapati bahwa wanita tadi mendapatkan bangkai ayam lalu memakanya.

Imam Abdullah yang tertegun lantas bertanya. ""Wahai saudari, kenapa engkau memakan bangkai ? Memakan bangkai hukumnya haram loh". Wanita parubayah tadi menjawab "Bangkai ini haram untukmu, tapi halal untukku". Imam Abdullah kembali tercengang , lantas ia bertanya kembali "Mana ada bangkai halal, memangnya agamamu apa kok bangkai menjadi halal?". Sang wanita parubayah menjawab dengan tegas " Saya adalah seorang muslim". Jawaban tersebut semakin membuat Imam Abdullah bertanya-tanya. "Saya juga muslim, dan bangkai itu haram untuk dimakan". Wanita parubayah tadi mengulangi jawaban pertamanya " Bangkai ini haram untukmu, tapi halal untukku".

Imam Abdullah akhirnya bertanya tentang sebab kenapa bangkai tadi halal. "Apa yang membuat bangkai itu halal untukmu?". Wanita paruhbya itu lantas menjawab " Bangkai ini halal untukku karena sudah 3 hari saya dan keluarga belum makan dan saya juga sudah berusaha untuk meminta pertolongan dari orang-orang kampung tapi tidak satupun menolong saya. Maka bangkai ini halal untukku".

Mendengar pernyataan tersebut, Imam Abdullah menangis sendu dan lantas memberikan semua uang yang ia bawa sebagai bekal haji untuk wanita tadi. "Bu, ini saya ada uang yang sebetulnya untuk ongkos haji, namun saya putuskan untuk pulang saja dan uang ini untuk anda sekeluarga. Belilah makanan dan bawa pulang untuk dimakan bersama keluargamu".

Singkat cerita, pulanglah Imam Abdullah menggunakan keledainya. Beberapa bulan kemudian, datanglah salah seorang  rombongan yang telah menunaikan haji ke rumahnya. Orang tersebut bertegun sapa dan Imam Abdullah mendoakanya. Tak disangka, orang tadi juga mendoakan sang Imam agar menjadi Haji yang mabrur dan ibadah hajinya diterima oleh Allah.

Tertegunlah sang Imam. " Loh , saya ini ndak jadi berangkat haji". Orang tadi menjawab " Ah Imam jangan mengada-ada orang saya thowaf bareng sama Imam kok ". Imam Abdullah kembali menyangkal bahwa ia tak jadi berangkat haji. Namun, orang tadi tetap bersikeras bahwa Imam Abdullah membersamainya saat thowaf.

Tak lama kemudian datanglah rombongan dengan cerita yang sama tapi tetap menggunakan keledai sebagai kendaraanya(bukan mobil tesla). Imam Abdullah yang mendengar cerita bahwa ia melakukan ibadah haji terheran-heran.

Singkat cerita, pada malam harinya sang Imam mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Dalam mimpi itu Rasulullah SAW menjalaskan bahwa dikarenakan keikhlasan Imam Abdullah untuk tidak berangkat haji dan memilih untuk memberikan ongkosnya kepada orang yang membutuhkan, ia telah dicatat sebagai orang yang melaksanakan haji di tahun itu dan bahkan ditahun-tahun berikutnya.

Begitulah kisah dari Imam Abdullah Ibnu Al Munkadir. Dari kisah tersebut kita dapat mengambil hikmah bahwasanya menolong orang yang membutuhkan merupakan hal yang begitu penting. Jangan sampai, kita berhaji berkali-kali namun tetangga kita kesulitan untuk makan. 

Keikhlasan juga menjadi hikmah dalam cerita ini. Keikhlasan untuk tidak berangkat haji dikarenakan sebab tertentu akan menghasilkan kebaikan yang jauh dari apa yang mampu dibayangkan.

Yang tidak menjadi hikmah dalam kisah ini adalah tidak adanya mobil tesla pada zaman itu. Hehehe...


Reference : Ceramah Habib Hamid Baagil. Elmihrab TV

Syahid Abede
MATAN UNNES

Komentar