Siapa Sebenarnya Syekh Abul Hasan Asy Sadzili (Bagian 1)

elmihrab.com – Suatu hari Syekh Abul Hasan Asy Sadzili r.a. berkelana ke sebuah tempat, di perjalanan beliau kemudian berkata dalam hati, “Ya Allah, kapankah aku menjadi hamba yang bisa bersyukur?” Kemudian terdengarlah suara, “Kalau kamu sudah mengerti dan merasa bahwa yang diberi nikmat hanya kamu saja.”

Beliau berkata lagi, “Bagaimana saya bisa begitu, padahal Engkau sudah memberi nikmat kepada para nabi, ulama dan raja?” Kemudian terdengar suara lagi, “Jika tidak ada nabi, kamu tidak akan mendapat petunjuk, jika tidak ada ulama kamu tidak akan bisa ikut bagaimana caranya beribadah, jika tidak ada raja kamu tidak akan merasa aman. Itu semua adalah nikmat dari-Ku yang kuberikan hanya untukmu.”

Syadziliyah adalah nama suatu desa di Benua Afrika yang merupakan nisbah nama Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. Beliau pernah bermukim di Iskandaria sekitar tahun 656 H. Beliau wafat dalam perjalanan haji dan dimakamkan di padang Idzaab Mesir. Sebuah padang pasir yang semula airnya asin menjadi tawar sebab keramat Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a.

Beliau belajar ilmu thariqah dan hakikat setelah matang dalam ilmu fikihnya. Bahkan beliau tak pernah terkalahkan setiap berdebat dengan ulama-ulama ahli fikih pada masa itu.

Dalam mempelajari ilmu hakikat, beliau berguru kepada wali quthub yang agung dan masyhur yaitu Syekh Abdus Salam Ibnu Masyisy, dan akhirnya beliau yang meneruskan quthbiyahnya dan menjadi Imam Al-Auliya'. Peninggalan ampuh sampai sekarang yang sering diamalkan oleh umat Islam adalah Hizb Nashr dan Hizb Bahr, di samping Thariqah Syadziliyah yang banyak sekali pengikutnya. Hizb Bahr merupakan Hizb yang diterima langsung dari Rasulullah saw. yang dibacakan langsung satu persatu hurufnya oleh beliau Rasulullah saw.

Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. pernah berriadhah selama 80 hari tidak makan, dengan disertai zikir dan membaca selawat yang tidak pernah berhenti. Pada waktu itu beliau merasa tujuannya untuk wushul (sampai) kepada Allah Swt. telah tercapai. Kemudian datanglah seorang perempuan yang keluar dari gua dengan wajah yang sangat menawan dan bercahaya. Dia menghampiri beliau dan berkata, ”Sunguh sangat sial, lapar selama delapan puluh hari saja sudah merasa berhasil, sedangkan aku sudah enam bulan lamanya belum pernah merasakan makanan sedikitpun.”

Beliau pernah khalwat (menyendiri) dalam sebuah gua agar bisa wushul (sampai) kepada Allah Swt. Lalu beliau berkata dalam hatinya, bahwa besok hatinya akan terbuka. Kemudian seorang waliyullah mendatangi beliau dan berkata, “Bagaimana mungkin orang yang berkata besok hatinya akan terbuka bisa menjadi wali. Aduh hai badan, kenapa kamu beribadah bukan karena Allah (hanya ingin menuruti nafsu menjadi wali).”

Setelah mendengar hal itu, beliau sadar dan faham dari mana datangnya orang tadi. Segeralah beliau bertaubat dan minta ampun kepada Allah Swt. Tidak lama kemudian hati Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. sudah dibuka oleh Allah Swt.

Demikianlah diantara bidayah (permulaaan) Syekh Abul Hasan As-Syadzili. Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa saja yang menjadi gurunya. Sabdanya, “Guruku adalah Syekh Abdus Salam Ibnu Masyisy, akan tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu. Lima dari bumi yaitu dari Rasululah saw., Abu Bakar r.a., Umar bin Khattab r.a., Ustman bin 'Affan r.a., dan Ali bin Abi Thalib r.a., serta lima dari langit yaitu dari malaikat Jibril, Mika'il, Isrofil, Izro'il dan ruh yang agung.

Beliau pernah berkata juga, “Aku diberi tahu catatan muridku dan muridnya muridku, semua sampai hari kiamat, yang lebarnya sejauh mata memandang, semua itu mereka bebas dari neraka.  Jikalau lisanku tak terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa memberi tahu tentang kejadian apa saja yang akan terjadi besok sampai hari kiamat.”

Syekh Abu Abdillah Asy-Syathibi berkata, “Aku setiap malam banyak membaca Radiya Allahu 'An Asy-Syekh Abil Hasan dan dengan ini aku berwasilah meminta kepada Allah Swt. apa yang menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja permintaanku.”

Lalu aku bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. dan aku bertanya, “Yaa Rasulallah, kalau seusai salat lalu berwasilah membaca Radiya Allahu 'An Asy-Syekh Abil Hasan dan aku meminta apa saja kepada Allah Swt. apa yang menjadi kebutuhanku lalu dikabulkan, seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau tidak?”. Lalu Nabi saw. menjawab, “Abul Hasan itu anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak terpisahkan dari orang tuanya, maka barang siapa bertawashul kepada Abul Hasan, maka berarti dia sama saja bertawashul kepadaku”.

Bersambung…
(Gfrn)

 

Komentar